Kemarin, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengumumkan paket kebijakan ekonomi. Paket ini dikeluarkan demi stabilisasi nilai tukar rupiah dan mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit).
Paket kebijakan ini baru akan berjalan pada akhir April 2015. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan, paket kebijakan ini baru akan terasa imbasnya kepada rupiah dalam jangka panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini akan memberi sinyal yang bagus. Tapi seharusnya sudah (pemerintah) lakukan sejak tahun lalu. Tahun kemarin itu kan The Fed (bank sentral AS) sudah memberi sinyal akan menaikkan suku bunga," ujarnya kepada detikFinance, Selasa (16/3/2015).
Pasalnya, yang terjadi saat ini adalah dolar AS yang menguat terhadap mata uang dunia. Jadi bukan rupiah saja yang melemah sendirian.
Hari ini dolar AS sempat menguat hingga ke titik tertingginya pagi ini di Rp 13.245. Setelah itu dolar AS bisa menjinak ke kisaran Rp 13.180.
"Pemerintah ini selalu bikin kebijakan 'pemadam kebakaran', seharusnya kan antisipatif, jadi jangan kejadian dulu baru mengeluarkan kebijakan," ujarnya.
Atas paket kebijakan yang baru keluar itu, David menilai, imbasnya baru akan terasa dalam jangka menengah dan panjang. Apalagi banyak kebijakan yang melibatkan banyak pelaku usaha dalam menjalankannya.
Berikut ini paket kebijakan ekonomi Jokowi yang dirilis kemarin.
(ang/dnl)











































