Bukan hal yang mudah bagi GoDaddy untuk bisa mendapatkan kepercayaan publik. Pasalnya, perusahaan yang bermarkas di Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat (AS) ini terkenal dengan iklan-iklan 'nakal' dan provokatif.
CEO GoDaddy, Blake Irving, sadar akan hal itu dan berupaya memperbaiki image alias citra perusahaan di mata investor. Pasalnya, GoDaddy sedang butuh uang untuk melunasi utang-utangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ini saatnya kami memperlihatkan kepada masyarakat bahwa bisnis kami ini memang penting dalam skala global," ujarnya sebelum IPO seperti dikutip Reuters, Kamis (2/4/2015).
Saat ini GoDaddy punya 13 juta pelanggan dengan omzet US$ 1,4 miliar (Rp 18,2 triliun). Meski omzet tinggi, tapi GoDaddy masih mencatat rugi US$ 143,3 juta (Rp 1,8 triliun).
Kerugiannya mulai berkurang berkat ekspansi bisnis yang mulai merambah web hosting dan aplikasi, tak lagi bermain di penjualan nama situs.
GoDaddy berganti kepemilikan pada 2011 setelah dibeli oleh perusahaan investasi KKR & Co., Silver Lake, Technology Crossover Ventures (TVC). Meski berganti kepemilikan, utang-utang GoDaddy tidak berkurang.
Nah, hari Rabu waktu setempat, perusahaan yang didirikan Bob Parson itu mendapat dana segar UUS$ 460 juta (Rp 5,9 triliun) hasil IPO. Selain untuk membayar utang, dana hasil IPO juga akan dipakai untuk pengembangan perusahaan.
Belum lihat iklan 'nakal' dan kontroversial GoDaddy? Simak di berita ini.
(ang/hen)











































