Angka penjualan juga ditargetkan naik menjadi Rp 5,4 triliun di tahun ini dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 4,521 triliun.
Direktur Keuangan KAEF Farida Astuti mengatakan, Perseroan akan terus menggenjot kinerja melalui pengembangan jaringan distribusi di seluruh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farida menyebutkan, perusahaan pelat merah ini menganggarkan dana belanja modal sebesar Rp 590 miliar di tahun ini yang penggunaannya diperuntukkan untuk pembangunan klinik dan apotik masing-masing 100 unit yang saat ini totalnya mencapai 617 unit. Hingga tahun 2019, Perseroan menargetkan bisa membangun 1.000 klinik dan apotik.
Dana belanja modal tersebut berasal dari kas internal sebesar Rp 300 miliar dan sisanya dari pinjaman perbankan.
Selain itu, Farida menyebutkan, BUMN farmasi ini juga tengah menggarap pembangunan pabrik di Banjaran, Bandung, Jawa Barat. Perseroan telah menyiapkan dana sebesar Rp 960 miliar untuk menyelesaikan proyek ini.
Saat ini, proses pembangunan pabrik tersebut dalam tahap Feasibilities Study (FS) yang diperkirakan akan rampung pembangunannya pada semester II-2017.
Perseroan membidik kenaikan produksi hingga 3.000 ton per tahun, sementara kebutuhan produk-produk farmasi dan generik di Indonesia mencapai 325.000 ton per tahun.
"Kapasitas pabrik 3.000 ton per tahun, kebutuhan Indonesia 325 ribu ton per tahun, jadi kita hanya berapa persen saja," imbuh dia.
(drk/ang)











































