Omzet dan keuntungan yang diraup para produsen bir rata-rata anjlok sekitar 20-40% di kuartal I-2015. Pasalnya, para minimarket dan pengecer sudah mulai berhenti membeli stok bir dan sejenisnya sejak awal tahun ini.
Buruknya kinerja juga mempengaruhi harga saham perusahaan. Saham para produsen bir sudah masuk tren melemah sejak awal tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selagi aturan masih longgar itu masih oke. Tapi kalau aturan yang melarang seluruh alkohol di Indonesia itu baru bad news (kabar buruk) buat mereka (produsen bir)," katanya kepada detikFinance, Jumat (8/5/2015).
Aturan yang dimaksud adalah usulan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang masih akan dibahas pemerintah. DPR usul produksi dan penjualan minol dihapuskan seluruhnya dari Indonesia.
Memasuki triwulan II, kata Supriyadi, kinerja perusahaan-perusahaan bir masih akan melambat, terutama jika pemerintah tidak mengeluarkan revisi dari aturan baru tersebut.
"Jadi prospek sahamnya untuk jangka panjang sangat tergantung dari kebijakan pemerintah. Apalagi saham publik mereka yang beredar kan sedikit jadi harganya sulit terbentuk," katanya.
Investor bisa saja mengoleksi saham produsen bir dengan catatan harganya sudah terdiskon banyak, alias sudah mengalami koreksi yang cukup tajam. Sahamnya masih akan naik secara jangka panjang jika didorong oleh kebijakan pemerintah yang tepat.
Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 15.50 waktu JATS, harga saham MLBI stagnan di Rp 8.550 per lembar dengan transaksi 13 kali sebanyak 25 lot senilai Rp 21,5 juta. Sedangkan saha DLTA stagnan di Rp 275.000 tanpa diperdagangkan sama sekali.
(ang/hen)











































