Sebagian saham perusahaan bir ini dimiliki oleh Pemerintah Provonsi DKI Jakarta. Bagaimana tanggapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atas anjloknya omzet produsen Anker Bir ini?
"Semua juga turun, rata-rata makanan minuman juga turun, semua turun, mobil, motor semua turun," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat malam (8/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ekonomi nggak bergitu bergerak," tutup Ahok.
Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan produsen Anker Bir ini, keuntungannya tercatat hanya Rp 33 miliar di kuartal I-2015, bandingkan dengan keuntungan perusahaan di periode yang sama tahun lalu Rp 79,3 miliar.
Turunnya kinerja keuangan itu disebabkan salah satunya akibat dari aturan Kementerian Perdagangan (Kemendag), yang melarang minimarket dan pengecer menjual minuman beralkohol di bawah 5% (golongan A).
Pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 6/2015 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran, dan penjualan minuman beralkohol yang berlaku 17 April 2015.
Dalam aturan tersebut dijelaskan minimarket dan pengecer dilarang menjual bir dan sejenisnya. Meski larangan ini baru berlaku di kuartal II-2015, tapi toko dan pengecer ini sudah berhenti mengisi stok sejak awal tahun.
Nasib serupa dialami oleh produsen Bir Bintang, PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI). Omzet dan laba produsen minol itu juga anjlok.
(rrd/wij)











































