Bosnya Mundur, Perusahaan Tambang Ini Tak Bisa Bayar Gaji Karyawan

Bosnya Mundur, Perusahaan Tambang Ini Tak Bisa Bayar Gaji Karyawan

Angga Aliya - detikFinance
Senin, 25 Mei 2015 14:58 WIB
Bosnya Mundur, Perusahaan Tambang Ini Tak Bisa Bayar Gaji Karyawan
Jakarta - PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) saat ini sedang diperebutkan oleh dua kelompok bisnis raksasa, Grup Sinarmas asal Indonesia dan Rothschild asal Inggris. Keduanya memperebutkan saham Asia Resources Minerals PLC (ARMS), induk dari Berau.

Saking panasnya perebutan saham itu, Direktur Utama (Dirut) Berau Amir Sambodo pun diminta mundur dari jabatannya. Desakan ini muncul dari para pemegang saham yang berada di London, Inggris.

Kepala Divisi Hukum dan Sekretaris Perusahaan Berau, Ari Ahmad Effendi, menyatakan pengunduran diri Amir tersebut mempengaruhi aktivitas operasional perusahaan.

"Berau Coal Energy dan Berau Coal tidak bisa melakukan pembayaran gaji dan remunerasi kepada karyawannya," katanya dalam keterangan tertulis yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/5/2015).

Selain itu, kata dia, semua kontrak menjadi stagnan karena dibutuhkannya tanda tangan dirut. Belum lagi semua pembayaran kepada kontraktor menjadi terhenti.

"Namun kini keadaan sudah pulih kembali dengan adanya penarikan surat pengunduran diri dirut, sehingga telah berjalan normal kembali," katanya.

Ia mengatakan, menurut penasehat hukum Amir yaitu Indrawan, Heisky & Parteners bahwa Amir sudah mencabut surat pengunduran dirinya di Berau Coal Energy dan Berau Coal.

Sampai berita ini diturunkan Amir belum bisa dimintai keterangan. Pesan singkat yang dikirim detikFinance belum dibalas, dan telepon genggamnya tidak aktif.

Dalam duel perebutan saham ARMS, Grup Sinarmas optimistis bisa menguasai kepemilikan saham mayoritas dengan tawaran harga senilai US$ 150 juta (Rp 2 triliun). Tawaran ini lebih tinggi dibanding yang diajukan Nathaniel Rothschild, senilai US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun).

Grup Sinarmas berniat menguasai mayoritas kepemilikan saham ARMS untuk memenuhi kebutuhan batu bara pembangkit listriknya.

(Angga Aliya/Wahyu Daniel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads