Dolar Masih Bertahan di Rp 13.300, Ini yang Diwaspadai Agus Marto

Dolar Masih Bertahan di Rp 13.300, Ini yang Diwaspadai Agus Marto

Dana Aditiasari - detikFinance
Jumat, 19 Jun 2015 15:39 WIB
Dolar Masih Bertahan di Rp 13.300, Ini yang Diwaspadai Agus Marto
Jakarta - Sampai saat ini, rupiah belum memperlihatkan tanda-tanda penguatan. Nilai tukar dolar AS masih bertahan di kisaran Rp 13.300. Bank Indonesia (BI) mengatakan, pelemahan rupiah karena gejala ekonomi dunia.

Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya terus waspada sampai akhir tahun ini. Hal tersebut berkaitan dengan rencana bank sentral Amerika Serikat (AS), yaitu Federal Reserve (The Fed), untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Agus Marto mengatakan, sejumlah pihak memprediksi The Fed akan menaikkan bunga acuannya mulai September secara berkala. "Itu bukan berita baik bagi Indonesia dan negara di dunia. Karena akan ada ketidakpastian lagi sampai akhir tahun. Maka secara umum masih diwaspadai," kata Agus Marto di kantornya, Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat (19/6/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, hal kedua yang diwaspadai, ujar Agus, adalah perkembangan ekonomi Yunani. Saat ini, Yunani belum juga mencapai kesepakatan dengan krediturnya. Yunani memerlukan suntikan uang baru, untuk membayar utang jatuh tempo dari IMF. Namun sampai saat ini, Yunani belum sepakat dengan kreditur. Uni Eropa akan melakukan pertemuan membahas mandeknya kesepakatan tersebut.

"Kami sudah antisipasi sejak 2010-2011 bagaimana dampak dari krisis di Yunani, kalau misalnya melihat dampaknya ke tekanan mata uang dunia. Kami antisipasi itu. Kami ingin sampaikan tetap perkembangan AS dan Yunani adalah penyumbang ketidakpastian," jelas Agus Marto.

Jadi, ujar Agus Marto, kondisi di AS dan Yunani banyak berperan dalam pelemahan nilai tukar rupiah. Dari dalam negeri, secara jangka pendek, pemerintah harus menjaga pencairan anggaran tetap terjaga. Kemudian, pemerintah diminta fokus pada reformasi struktural, seperti percepatan perizinan, kepastian hukum, dan membangun infrastruktur.

"Itu semua inisiatif yang disambut investor. Kalau sekarang pemerintah sedang siapkan paket kebijaka ekonomi kami sambut baik. Itu kecenderungan super dolar ada," jelas Agus Marto.

(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads