Kondisi ini membuat kepanikan pasar yang diikuti dengan aksi jual besar-besaran oleh broker dan investor setempat. Terjadi panik jual yang mengakibatkan kapitalisasi pasar saham China kembali merosot tajam.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, merosotnya bursa saham negeri tirai bambu itu perlu dipantau karena lebih penting dari krisis finansial Yunani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ada sedikit dampak negatif, Tito melihat, apa yang terjadi di China tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan oleh investor dalam negeri.
"Tapi saat ini mari berpikir jangka panjang, jangan sehari turun langsung berteriak, saham itu investasi jangka panjang, kalau jangka panjang nggak pernah turun," tegasnya.
Tito menuturkan, sejumlah besar emiten di BEI masih mencatatkan kinerja yang positif di tengah isu global yang selalu negatif dalam beberapa bulan terakhir.
"Jadi jangka panjang, selama perusahaan yang kita investasikan bagus Insya Allah aman. Nggak perlu khawatir lah soal itu," tambahnya.
(ang/ang)











































