Pasar Saham China Seperti Kiamat, Akankah Krisis 2008 Terulang?

Pasar Saham China Seperti Kiamat, Akankah Krisis 2008 Terulang?

Angga Aliya - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2015 12:22 WIB
Pasar Saham China Seperti Kiamat, Akankah Krisis 2008 Terulang?
Foto: Reuters
Jakarta - Jatuhnya pasar saham China kemarin tak hanya membuat investor lokal panik, tapi juga investor asing. Banyak yang ketakutan koreksi masif itu bakal memicu krisis.

Kekhawatiran ini wajar, sebab hanya dalam hitungan minggu Pasar Saham China anjok 32%, menghapus kapitalisasi pasar lebih dari US$ 3 triliun (Rp 39.000 triliun).

Buntutnya, pasar saham di negara lain juga kena imbasnya, termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kemarin ditutup merah. Hari ini ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih bergerak negatif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Entah kebetulan atau tidak, pasar saham New York, Amerika Serikat (AS), juga kemarin mengalami masalah teknis dan harus dihentikan sementara. Dari kabar yang beredar, pasar saham AS sengaja dihentikan sementara supaya mencegah terjadinya aksi jual besar-besaran.

"Pasar saham China kemarin benar-benar gila. Investor asing melihatnya seolah-olah dunia mau kiamat," kata Analis dari Bespoke Investment Group dalam riset harian yang dikirimkan kepada investor seperti dikutip CNN, Kamis (9/7/2015).

Tenang dulu, jangan buru-buru ambil kesimpulan. Apakah memang koreksi tajam di Pasar Saham China bakal berujung krisis? Mari kita bandingkan dengan krisis yang pernah terjadi.

Krisis Finansial Global 2008
Sejauh ini, anjloknya pasar saham China ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan koreksi Indeks S&P 500 yang jatuh 41% hanya dalam waktu dua bulan, sampai ke titik terendahnya di 666.

Anjlok Indeks S&P 500 dipicu oleh bangkrutnya Lehman Brothers di pertengahan 2008. Hal ini masih lebih parah dibandingkan koreksi Pasar Saham China yang hanya 32%.

Apalagi jumlah kepemilikan saham asing di Pasar Saham China tidak besar, hanya 1,5% dari total kapitalisasi pasar. Sehingga pengaruhnya secara langsung ke investor asing tidak besar.

Krisis dot-com AS
Banyak juga investor yang membandingkan jatuhnya pasar saham China ini dengan krisis dot-com AS di awal era 2000-an. Indeks Komposit Shenzen yang memuat banyak saham perusahaan teknologi baru dikhawatirkan mengalami krisis serupa.

Shenzen ini dianggap bakal bernasib seperti Nasdaq saat krisis dot-com. Indeks Komposti Shenzen sudah jatuh 40% sejak pertengahan Juni. Investor melepas saham-saham lapis dua dan perusahaan teknologi baru.

"Banyak pelaku pasar yang ketakutan pasar saham China sudah bubble dan siap meledak," kata Ankur Patel, Kepala Investasi Pasar dari R-Squared Macro Management.

Waktu itu Nasdaq anjlok 41% dalam 10 pekan, terus melemah sampai jatuh 78% ke titik terendahnya di Oktober 2002. Koreksi yang terjadi di Shenzen diperkirakan masih akan terjadi.

Black Monday
Ini adalah sebutan saat Dow Jones anjlok 22,6% dalam sehari, yaitu pada Oktober 1987. Tentunya situasi di pasar saham China masih lebih ringan dibandingkan Black Monday.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads