Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memperingatkan kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz untuk sangat berhati-hati. Harga minyak mentah melonjak tajam hingga melewati US$ 100 per barel, seiring ditutupnya Selat Hormuz akibat konflik.
"Selama situasi masih tidak aman, saya pikir semua kapal tanker dan seluruh aktivitas pelayaran harus sangat berhati-hati," kata Baghaei, dilansir dari CNBC, Selasa (10/3/2026).
Ia menegaskan Iran akan melawan Amerika Serikat dan Israel. Baghaei juga menyatakan negaranya telah menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan, termasuk potensi invasi dari jalur darat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baghaei juga memprediksi Iran akan bersatu di bawah pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, yang dipilih pada akhir pekan lalu untuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang antara AS-Israel dan Iran.
"Lembaga negara, masyarakat, dan para otoritas semuanya telah menunjukkan bahwa mereka akan bersatu di bawah kepemimpinan baru," ujarnya.
Ia menolak pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyiratkan Amerika Serikat seharusnya memiliki peran dalam menentukan pemimpin Iran.
"Saya pikir ini adalah prinsip dasar hukum internasional dan etika bahwa sebuah bangsa menentukan nasibnya sendiri, bebas dari campur tangan pihak asing," ujarnya.
"Adalah hak mutlak rakyat Iran untuk menentukan kepemimpinan dan sistem mereka. Sangat tidak sah bagi siapa pun di luar Iran untuk mengatakan siapa yang harus memerintah Iran," tambah Baghaei.
Ketika ditanya mengapa Iran menargetkan negara-negara Teluk, termasuk serangan terhadap pabrik desalinasi di Bahrain, kilang minyak di Arab Saudi, dan infrastruktur sipil di Uni Emirat Arab, Baghaei menegaskan bahwa Iran hanya sedang membela diri.
"Kami membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Semua pangkalan militer, instalasi, dan aset yang dalam bentuk apa pun membantu agresor dianggap sebagai target yang sah," tutupnya.
(acd/acd)










































