Pasar Saham China Bubble, Sofyan Djalil: Tinggal Tunggu Pecahnya

Pasar Saham China Bubble, Sofyan Djalil: Tinggal Tunggu Pecahnya

Zulfi Suhendra - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2015 19:33 WIB
Pasar Saham China Bubble, Sofyan Djalil: Tinggal Tunggu Pecahnya
Jakarta - Bursa saham China kemarin anjlok 8% dan membuat pasar saham negeri tirai bambu itu tengah kritis. Namun, kondisi tersebut sebenarnya sudah diprediksi banyak orang.

Hal tersebut seperti diungkapkan Menko Perekonomian Sofyan Djalil, ditemui usai menghadiri acara Presiden Jokowi menjawab tantangan ekonomi di ruang cendrawasih JCC, Jakarta, Jalan Senayan, Kamis (9/7/2015).

"Kalau kita lihat secara lebih objektif, kenaikan harga saham mereka setahun ini kan begitu tinggi, dua bulan lalu orang bilang sudah bubble, jadi tinggal tunggu pecahnya," kata Sofyan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan pasar saham China seperti roller-coaster, dan kapitalisasi pasarnya turun hingga US$ 3 triliun, atau sekitar Rp 39.000 triliun. Indeks utamanya, yaitu Shanghai Composite, sudah turun 30% di tahun ini. Lebih parah lagi, 2.800 perusahaan yang terdaftar di bursa tersebut dibekukan perdagangannya, karena nilai sahamnya jatuh dalam.

Sofyan mengakui, dengan kondisi ekonomi global saat ini, begitu ada satu saja pasar saham di suatu negara mengalami kritis, tentu akan berpengaruh pada pasar saham banyak negara.

Selain kejatuhan bursa saham, China saat ini juga tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang terendah sejak krisis keuangan 2008. Kedua kondisi tersebut membuat ekonom khawatir.

"Sampai hari ini, yang namanya pasar global ini, apa yang terjadi di satu belahan dunia pasti akan berpengaruh. Tapi kita belum lihat. Kalau di Yunani memang masalah, karena persoalan yang sudah lama tapi bukan hari ini, tapi puncaknya sekarang kan," ungkapnya.

Ia berharap kondisi di China segera pulih, karena banyak orang khawatir bila ekonomi di China melambat maka dampaknya bisa ke ekonomi global.

"Mudah-mudahan nggak ya. Tapi China juga berusaha semaksimal mungkin. Pemerintah China lebih concern daripada kita. Walaupun itu akan berpengaruh terhadap ekspor kita," tutup Sofyan.

(rrd/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads