Salah satu investor yang bernasib buruk adalah Yang Cheng, petani di kota kecil bernama Panzhihua sekitar daerah barat laut China. Ia merupakan salah satu dari banyak warga China yang mulai membeli saham setelah pemerintah mendorong rakyatnya berinvestasi demi menggenjot pertumbuhan ekonomi.
"Ketika pasar (saham) menembus 4.000 poin, saya sadar risikonya jadi makin tinggi. Namun, opini masyarakat atas kebijakan pemerintah mempengaruhi keputusan saya," katanya kepada CNBC, Rabu (29/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasib malang terjadi setelah Indeks Komposit Shanghai anjlok hingga 30% hanya dalam 18 hari perdagangan. Koreks pun terus terjadi selama hampir dua bulan ke depan.
Yang pun kehilangan semua hartanya dan masih punya utang hasil pembelian saham dengan cara margin trading tadi. Setelah kehilangan uang simpanan seumur hidupnya, Yang pun memutuskan untuk meminta bantuan pemerintah, seperti kebanyakan investor China lain yang kehilangan hartanya.
Sayangnya, regulator pasar modal negeri tirai bambu pun tidak bisa memberikan bantuan apa-apa karena koreksi tajam yang terjadi di luar kendali pemerintah.
"Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya terlalu percaya kepada pemerintah. Saya tidak ingin berurusan dengan saham lagi," tegas Yang.
China Securities Regulatory Commission awal pekan ini menyatakan, siap membeli lebih banyak saham supaya menjaga fluktuasi di pasar modal. Sementara Bank Sentral akan menyuntik banyak uang ke pasar supaya likuiditas tidak kering.
(ang/dnl)











































