Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 14 Agu 2015 12:02 WIB

China Bikin Geger Lemahkan Yuan, Jepang yang Bakal Terpukul

Maikel Jefriando - detikFinance
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berpendapat pelemahan mata uang yuan yang dilakukan oleh China untuk menggenjot ekspor tak berdampak besar bagi Indonesia.

Efek pelemahan yuan bakal lebih dirasakan oleh Jepang. Sebab, barang-barang ekspor Jepang akan terpukul.

"Ya masing-masing (negara) kan berusaha (ekonominya) tetap berkembang. Tapi yang lebih langsung (terkena dampaknya) itu, sebenarnya adalah ekonominya barang-barang dari China dengan Jepang. Dengan kita ada dampaknya, tapi tidak terlalu besar," kata Darmin usai Pidato Kenegaraan Presiden di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (14/8/2015).

Meski begitu, dia mengakui bahwa tindakan China ini dapat mengganggu daya saing ekspor produk-produk Indonesia. Barang-barang impor dari China pun bisa makin membanjiri pasar Indonesia. Dengan melemahkan mata uangnya, China membuat produk-produknya menjadi lebih murah dan berdaya saing.

"Impor-ekspor kan bisa memilih, mau dari sana atau bukan. Kalau dia (China) menjadi lebih murah, ya memang cenderung (beli) dari sana," ucapnya.

Sebelumnya, pasca devaluasi mata uang yang dilakukan oleh China, pasar keuangan dan mata uang di negara global anjlok. Tak terkecuali nilai tukar rupiah yang ikut terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan per 12 Agustus 2015, depresiasi rupiah sudah mencapai 10,16% (year to date).

"Kebijakan‎ China itu berdampak negatif terhadap mayoritas mata uang negara-negara di dunia termasuk Indo‎nesia. Secara year to date depresiasi mencapai 10,16%," ungkap Agus.

Bila melihat negara lainnya, rupiah‎ memang terhitung cukup baik. Sebab ringgit Malaysia terdepresiasi sampai dengan 13,16%, Turki 16,23%, Brasil 29,4% dan Australia sebesar 10,6%.

Ada juga negara-negara yang bisa menahan mata uangnya tidak terdepresiasi terlalu dalam. Seperti Won Korea Selatan yang hanya 8,35%, Bath Thailand sebesar 6,62% dan Yen Jepang‎ dengan 3,96%

"Kita akan terus dan akan berada di pasar untuk memantau pergerakan nilai tukar rupiah," terangnya.

Agus menambahkan posisi China yang melemahkan mata uang, merupakan bagian dari upaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui ekspor. Senin 11 Agustus 2015 depresiasi Yuang mencapai 1,9% terhadap dolar AS dan Selasa 12 Agustus 2015 dilanjutkan dengan depresiasi 1,6%.

"‎Ini arena kondisi di china itu terjadi pelemahan kinerja ekspor, capital outflow yang cukup serius dan cadangan devisa yang menurun," tukasnya.

(mkl/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com