Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo mengatakan, kondisi perseroan masih terbilang aman meskipun dolar AS menguat hingga ke level Rp 16.000. Meski demikian, Arif berharap, hal tersebut tidak terjadi.
"Kita melakukan skenario dolar AS di Rp 16.000, kami aman. Itu skenario batas atas. Tapi tentu kami tidak berharap itu terjadi, rupiah tentu bisa menguat," kata dia kepada detikFinance, Selasa (25/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam kondisi ini, konsolidasi internal dulu, mengawasi betul pergerakan rupiah. Kami antisipasi dengan lindung nilai. Kami sudah melakukan swap atas utang kami, obligasi rupiah senilai Rp 2 triliun," sebut Arif.
Selain itu, Arif menyebutkan, perseroan mulai menggeser portofolio utangnya dari jangka pendek ke jangka panjang. Hal itu untuk menekan risiko gagal bayar.
"Utang yang short term kami kurangi, tadinya 60% jadi 30%, itu utang di kisaran 1-3 tahun. Sekarang digeser ke long term, 5 tahun lebih," ucap dia.
Arif menyebutkan, saat ini total utang perseroan mencapai US$ 1,2 miliar. Beberapa waktu lalu, perseroan telah menggelontorkan uang senilai US$ 500 juta untuk melunasi utang-utang jatuh tempo.
"Kemarin kami sudah bayar utang jatuh tempo US$ 500 juta, itu bagian reprofiling utang-utang kami," jelas dia.
Di samping itu, Arif menambahkan, perseroan juga tengah berkomunikasi dengan pemerintah dalam hal ini kementerian BUMN untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham di pasar modal tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Hal ini untuk mengamankan posisi kekayaan Garuda Indonesia agar tidak terus terperosok.
"Rencana buyback tinggal menunggu teknisnya. Kami konsultasikan ke BUMN sebagai mayoritas pemegang saham. BUMN punya keinginan itu. Beliau (Rini Soemarno) ke arah situ (buyback)," imbuh Arif.
(drk/dnl)











































