IHSG Terimbas Ketidakpastian Suku Bunga AS

Rekomendasi Saham

IHSG Terimbas Ketidakpastian Suku Bunga AS

Angga Aliya - detikFinance
Senin, 14 Sep 2015 08:55 WIB
IHSG Terimbas Ketidakpastian Suku Bunga AS
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan lalu rebound 17 poin berkat aksi beli investor domestik. Perdagangan berjalan sepi di akhir pekan.

Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (11/9/2015), IHSG ditutup bertambah 17,207 poin (0,40%) ke level 4.360,468. Sementara Indeks LQ45 ditutup tumbuh 4,868 poin (0,67%) ke level 736,361.

Sementara Wall Street ditutup positif dan Indeks S&P 500 mencetak pekan terbaiknya sejak dalam dua bulan terakhir. Investor masih menanti langkah The Fed naikkan suku bunga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat, Indeks Dow Jones naik 102,69 poin (0,63%) ke level 16.433,09, Indeks S&P 500 bertambah 8,76 poin (0,45%) ke level 1.961,05 dan Indeks Komposit Nasdaq menguat 26,09 poin (0,54%) ke level 4.822,34.

Hari ini IHSG diperkirakan akan bergerak fluktuatif gara-gara pelaku pasar menanti pengumuman The Fed soal suk bunga pekan ini. Aksi jual asing diprediksi berlanjut.

Pergerakan bursa-bursa Asia pagi hari ini:

  • Indeks Nikkei 225 melemah 40,74 poin (0,22%) ke level 18.223,48.
  • Indeks Straits Times turun 8,72 poin (0,30%) ke level 2.879,31.

Rekomendasi perdagangan saham hari ini:
OSO Securities
IHSG berhasil mencatatkan penguatan di akhir pekan kemarin dengan naik sebesar 0.40% ke level 4,360.47 ditengah kejatuhannya bursa Asia dengan penurunan terdalam yaitu bursa Singapore dan Korea yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar (1.36%) dan (1.06%). Hampir semua indeks ditutup menguat, dipimpin oleh sektor Agriculture dan Consumer Goods yang masing-masing naik sebesar 3.96% dan 1.48%. Pelaku pasar asing mencatatkan net sell sebesar Rp 57.58 miliar.

Sementara itu, bursa Amerika kembali ditutup menguat pada perdagangan akhir pekaan kemarin. Penguatan terjadi ditengah rilisnya data preliminary consumer sentimen bulan September yang berada di level 85.7, merupakan level terendah sejak september 2014 dan di bawah ekspektasi pasar di level 91.2. selain itu data PPI di bulan Agustus juga berada di level yang sama yaitu sebesar 0.3%. Indeks Dow Jones menguat sebesar 0.63% ke level 16,433.09, indeks S&P 500 naik sebesar 0.45% ke level 1,9614.05 dan indeks Nasdaq menguat sebesar 0.54% ke level 4,822.34.

Kami perkirakan IHSG hari ini akan bergerak variatif dengan kecenderungan menguat terbatas. Secara teknikal, indicator MFI dan RSI. Sedangkan, indicator MACD Histogram masih terlihat bergerak sideways. IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 4310-4410.

First Asia Capital
Β IHSG akhir pekan lalu bergerak konsolidasi dalam rentang terbatas dan nilai transaksi yang tipis, namun berhasil tutup positif atau menguat 17,207 poin(0,4%) di 4360,468. Nilai transaksi di Pasar Reguler tidak sampai Rp3 triliun dan pemodal asing masih mencatatkan nilai penjualan bersih Rp57 miliar. Sentimen pasar masih diliputi kekhawatiran menyusutnya likuiditas di pasar global mengantisipasi rencana kenaikan tingkat bunga The Fed menjelang pertemuan The Fed pekan ini dan depresiasi rupiah atas dolar AS yang berlanjut hingga menembus Rp14300 akhir pekan lalu. Kondisi ini membuat rebound di pasar saham bersifat terbatas di tengah mulai redahnya kekhawatiran gejolak pasar saham China. Dilihat selama sepekan terakhir, IHSG bergerak anomali dengan tren pasar saham global dan kawasan yang umumnya berhasil rebound.

Selama sepekan IHSG terkoreksi 1,24% melanjutkan koreksi pekan sebelumnya 0,69%. Sedangkan sejumlah indeks saham utama global pekan kemarin seperti indeks saham Wall Street berhasil menguat rata-rata 2%, indeks Nikkei Jepang naik 2,6%, Hangseng Hongkong naik 3,2% dan ST Singapura naik 0,8% selama sepekan. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran pasar masih tinggi terutama terkait depresiasi rupiah atas dolar AS sebagai dampak penguatan dolar atas mata uang emerging market menjelang pertemuan The Fed pekan ini. Sepekan kemarin rupiah kembali melemah 0,9% melanjutkan pelemahan pekan sebelumnya 1,2%. Sepanjang tahun ini rupiah terhadap dolar AS telah melemah 15% (YTD). Paket kebijakan September 1 yang diumumkan Presiden Jokowi pekan kemarin belum banyak membantu sentimen pasar dalam jangka pendek sebagaimana terlihat pelemahan rupiah masih saja terjadi. Di pasar saham tekanan jual pemodal asing terus berlanjut seiring depresiasi rupiah atas dolar AS. Nilai penjualan bersih asing pekan kemarin mencapai Rp1,82 triliun meningkat dari pekan sebelumnya Rp830 miliar.

Memasuki perdagangan awal pekan ini, pergerakan IHSG diperkirakan masih berfluktuatif mengantisipasi pertemuan The Fed pekan ini. Sentimen pasar masih akan terfokus pada isu global dan kawasan terutama menyangkut perkembangan ekonomi China dan kenaikan tingkat bunga di AS. Sedangkan dari domestik, akan dipengaruhi pergerakan rupiah atas dolar AS. Perekonomia China masih menghadapi tantangan perlambatan pertumbuhan sebagaimana terlihat dari lemahnya data-data ekonomi China yang keluar. Pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dengan support 4335 dan resisten di 4390 berpeluang menguat terbatas.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads