Bank Mandiri Minta E&Y Segera Audit Investigasi Great River

Bank Mandiri Minta E&Y Segera Audit Investigasi Great River

- detikFinance
Senin, 28 Feb 2005 14:19 WIB
Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) meminta auditor Ernst & Young (E&Y) segera melakukan audit investigasi terhadap PT Great River Tbk (GRIV) sehubungan dengan gagal bayar obligasi yang disinyalir karena laporan adanya keuangan yang dimanipulasi. "Audit investigasi harus segera dilakukan oleh Ernst & Young (E&Y), sekarang ini kami nebak sana sini," kata Dirut Bank Mandiri ECW Neloe disela acara MoU dengan Jasa Marga di Kantor Bank Mandiri Jl. Gatot Subroto Jakarta, Senin,(28/2/2005). Seperti diketahui, Bank Mandiri merupakan salah satu pemegang obligasi sekitar Rp 50 miliar dari obligasi PT Great River International Tbk I tahun 2003 sebesar Rp 300 miliar. Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang diselenggarakan pada 18 Februari 2005 telah menyatakan emiten lalai (default), namun RUPO tidak menyetujui penjelasan manajemen PT Great River Internasional Tbk atas kegagalan pembayaran kupon bunga kelima tersebut. Pembayaran bunga kelima sebesar Rp 11 miliar telah melewati masa tenggang yang diberikan sampai 2 Februari 2005. Menurut Neloe, meski sektor tekstil tidak mudah sebenarnya GRIV merupakan perusahaan yang bagus dengan 26 merek penjualan yang terkenal. "Cuma mungkin terjadi cashflow trap (kesalahan penempatan arus kas). Ini kenapa terjadi trap di cashflow karena kalau lihat laporan keuangannya tidak mungkin terjadi kecuali ada manipulasi," kata Neloe. Mengenai mundurnya Boyke Gozali dan Todo Sihombing sebagai care taker untuk menyelesaikan kasus GRIV, Neloe mengaku tidak masalah. Pasalnya, Boyke Gozali yang merupakan pemilik perusahaan garmen PT Plaza Indonesia Realty Tbk, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), menurut Neloe tetap komitmen untuk menjadi investor di GRIV. "Bank Mandiri convinience dengan Boyke karena bidang usahanya juga garmen," katanya. Sedangkan mengenai keberadaan Tan Bien Keat yang kini menjadi satu-satunya care taker, menurut Neloe jika yang bersangkutan bisa bekerja sama dengan Bank Mandiri maka pihaknya akan mempertahankannya. "Kalau tidak kita tunjuk orang lain," kata Neloe. Bank Mandiri juga kata Neloe, belum berencana menjual jaminan saham GRIV sebesar 30 persen. Meski mengalami kasus gagal bayar di GRIV, Neloe mengaku pihaknya tidak akan mengubah kebijakan dalam pemberian kredit tekstil. "Tidak dikurangi atau ditambah, kita maintenance saja seperti ini sudah bagus, jadi jumlahnya akan sama seperti tahun-tahun lalu," ujarnya. Bagaimanapun ujar Neloe, sektor tekstil terutama ekspornya memberikan kontribusi yang besar terhadap cadangan devisa yakni sebesar US$ 7 miliar. Sedangkan perdagangan tekstil dalam negeri bisa mencapai US$ 3 miliar, belum lagi perdagangan tekstil melalui penyelundupan yang mencapai US$ 3 miliar. "Jadi kalau penyelundupan tekstil bisa diatasi, produsen tekstil dalam negeri bisa tumbuh," katanya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads