Menurut Direktur Utama Garuda, Arif Wibowo, dengan transaksi CCS tersebut Garuda dapat menghindari atau mengurangi risiko melonjaknya biaya operasional jika dibayar dalam mata uang rupiah karena pelemahan nilai tukarnya.
"Hal ini mengingat biaya operasional penerbangan seperti pembelian spare parts, maintenance serta sewa pesawat dibayarkan dalam mata uang dolar AS," katanya saat konferensi pers di kantor Garuda Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta, Jumat (23/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini merupakan bagian dari manajemen risiko perusahaan yang dijalankan berdasarkan prinsip kehati-hatian," ujarnya.
Pelaksanaan rutin transaksi lindung nilai terhadap exposure penerimaan rupiah dan biaya dolar AS, serta bahan bakar, membantu kinerja manajemen resiko di tengah kondisi perekonomian yang melemah di global, regional maupun nasional.
Selain itu, maskapai pelat merah itu juga sudah menerbitkan sukuk global US$ 500 juta, dengan jangka waktu lima tahun dan kupon 5,95% pada Mei 2015 lalu.
Hingga kini Grup Garuda Indonesia mengoperasikan 181 pesawat, terdiri dari delapan Boeing 777-300ER, 22 Airbus A330-200/300, dua Boeing 747-400, 10 ATR72-600, 15 Bombardier CRJ1000 NextGen, 88 Boeing 737-300/500/800NG, dan 36 Airbus A320, dengan rata-rata usia pesawat 4,7 tahun.
Pada akhir 2015 mendatang, Garuda Indonesia Group akan mengoperasikan 187 pesawat (143 pesawat Garuda Indonesia dan 44 pesawat Citilink), dengan rata-rata usia sebesar 4,3 tahun.
(ang/dnl)











































