Pengusaha pemilik MNC Group, Hary Tanoesoedibjo mengatakan, saat ini kepercayaan masyarakat dan investor terhadap kebijakan pemerintah dan juga Bank Indonesia (BI) belum penuh.
"Karena pemerintah dan sektor moneter (BI) tidak meyakinkan, maka masyarakat tidak yakin, dan timbullah spekulan. Jadi spekulan tidak bisa disalahkan," kata Hary Tanoe saat berkunjung ke kantor detikcom, Jakarta, Jumat (30/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang masih kayak yoyo. Seperti perizinan usaha 3 jam itu bagus. Tapi yang terpenting lagi untuk investor, apakah ada pengawalan hingga pabrik beroperasi, mulai dari impor barang modal, pengadaan tenaga kerja dan lain-lain," ujar Hary Tanoe.
Hari ini, posisi dolar AS terendah adalah Rp 13.576, dan posisi tertingginya adalah Rp 13.707. Ada rentang hampir 200 poin.
"Saat ini pelaku pasar masih wait and see. Apalagi pasar keuangan kita masih rentan dan kecil," imbuh Hary.
Menurut pria yang juga merupakan Ketua Umum Partai Perindo ini, mata uang rupiah masih rawan. Karena itu harus ada kepercayaan yang dibuat oleh pemerintah dan BI.
Hary juga menyinggung soal kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty yang akan diberlakukan pemerintah tahun depan, untuk menjaring uang orang Indonesia yang 'diparkir' di luar negeri.
"Mudah-mudahan uang dari luar masuk, tapi bisa juga ragu kalau ada LSM usil dan membawa aturan ini ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kalau dibatalkan MK bisa kena hukuman mereka yang sudah terlanjur membawa uangnya masuk. Jadi saya pikir orang masih akan berpikir soal tax amnesty ini," jelas Hary.
(dnl/ang)











































