Dana pensiun pemerintah Jepang, salah satu yang terbesar di dunia, kehilangan US$ 64 miliar (Rp 832 triliun) dalam tiga bulan sampai akhir September gara-gara pasar saham China anjlok.
Buntut dari jatuhnya bursa negeri tirai bambu itu membuat banyak pasar saham di negara-negara maju dan berkembang ikut jatuh. Pemulihan saham-saham ini sangat lambat gara-gara ekonomi yang lesu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jepang merupakan negara dengan populasi orang tua terbanyak di dunia, lebih dari seperempat warganya berumur di atas 65 tahun. Bahkan ada 30.000 orang yang menembus umur 100 tahun.
Para manula in diwajibkan untuk menyimpan uang di dana pensiun pemerintah. Para manager investasi yang mengelola uang pensiun ini sekarang mendapat tekanan besar untuk mengembalikan uang para manula ini.
Dana pensiun Jepang mulai mengambil risiko tinggi pada 2014 dengan menambah portofolionya di saham dari sebelumnya obligasi.
Sekarang ini lebih dari setengah Dana Pensiun Jepang disimpan dalam bentuk saham. Meski sudah kehilangan banyak uang, Dana Pensiun Jepang belum membeberkan strateginya ke depan.
"Negatifnya imbal hasil investasi saham terjadi gara-gara melemahnya ekonomi global ditambah koreksi tajam di pasar saham dunia, terutama di China," kata Yngve Slyngstad, CEO Norges Bank Investment Management, seperti dikutip CNN, Selasa (1/12/2015).
Dana Pensiun Jepang bukan satu-satunya yang mengalami kerugian. Dana Pensiun Norwegia juga mengalami hal serupa dengan kehilangan 4,9% investasinya atau sekitar 273 kroner (Rp 507 triliun) di akhir September.
(ang/ang)











































