Bursa China Anjlok, Para Manula di Jepang Kehilangan Rp 832 Triliun

Bursa China Anjlok, Para Manula di Jepang Kehilangan Rp 832 Triliun

Angga Aliya - detikFinance
Selasa, 01 Des 2015 07:18 WIB
Bursa China Anjlok, Para Manula di Jepang Kehilangan Rp 832 Triliun
Foto: AFP
Jakarta - Jatuhnya pasar saham China kembali makan korban. Kali ini para manula pensiunan di Jepang.

Dana pensiun pemerintah Jepang, salah satu yang terbesar di dunia, kehilangan US$ 64 miliar (Rp 832 triliun) dalam tiga bulan sampai akhir September gara-gara pasar saham China anjlok.

Buntut dari jatuhnya bursa negeri tirai bambu itu membuat banyak pasar saham di negara-negara maju dan berkembang ikut jatuh. Pemulihan saham-saham ini sangat lambat gara-gara ekonomi yang lesu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nilai dana yang dikelola institusi Jepang itu jatuh 5,6% menjadi 135 triliun yen. Sementara nilai saham yang dipegangnya di Jepang anjlok 8%, sementara saham-saham di luar negeri jatuh hingga 11%.

Jepang merupakan negara dengan populasi orang tua terbanyak di dunia, lebih dari seperempat warganya berumur di atas 65 tahun. Bahkan ada 30.000 orang yang menembus umur 100 tahun.

Para manula in diwajibkan untuk menyimpan uang di dana pensiun pemerintah. Para manager investasi yang mengelola uang pensiun ini sekarang mendapat tekanan besar untuk mengembalikan uang para manula ini.

Dana pensiun Jepang mulai mengambil risiko tinggi pada 2014 dengan menambah portofolionya di saham dari sebelumnya obligasi.

Sekarang ini lebih dari setengah Dana Pensiun Jepang disimpan dalam bentuk saham. Meski sudah kehilangan banyak uang, Dana Pensiun Jepang belum membeberkan strateginya ke depan.

"Negatifnya imbal hasil investasi saham terjadi gara-gara melemahnya ekonomi global ditambah koreksi tajam di pasar saham dunia, terutama di China," kata Yngve Slyngstad, CEO Norges Bank Investment Management, seperti dikutip CNN, Selasa (1/12/2015).

Dana Pensiun Jepang bukan satu-satunya yang mengalami kerugian. Dana Pensiun Norwegia juga mengalami hal serupa dengan kehilangan 4,9% investasinya atau sekitar 273 kroner (Rp 507 triliun) di akhir September.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads