Dolar AS Rp 13.880, Agus Marto: Kondisi Ekonomi RI Baik

Dolar AS Rp 13.880, Agus Marto: Kondisi Ekonomi RI Baik

Dana Aditiasari - detikFinance
Senin, 11 Jan 2016 19:13 WIB
Dolar AS Rp 13.880, Agus Marto: Kondisi Ekonomi RI Baik
Jakarta - Pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level Rp 13.880. Pagi tadi, mata uang Paman Sam tersebut sempat mendekati level Rp 14.000.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai, penguatan nilai tukar rupiah sore hari ini merupakan bukti kondisi perekonomian Indonesia yang kian membaik seiring dengan giatnya pembangunan yang dilakukan pemerintah setidaknya satu tahun terakhir ini.

"Indonesia secara umum kita mengalami kondisi yang baik. Karena kita paling tidak melihat kondisi transaksi berjalan kita, inflasi kita yang mengalami perbaikan. Ada perbaikan pembangunan infrastruktur kita, dan sebagainya," kata Agus ditemui usai Rapat dengan Komisi XI DPR RI, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (11/1/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Agus menambahkan, pelaku pasar juga merespon positif optimisme dan kerja nyata yang dilakukan Pemerintah yang dibuktikan dengan berbagai percepatan pembangunan infrastruktur di tahun 2016 ini.

"Kita juga melihat, bahwa secara umum komitmen Pemerintah untuk melakukan percepatan di infrastruktur, itu dibuktikan dengan banyak departemen pemerintah yang bertanggung jawab terhadap infrastruktur melakukan pelelangan. Yang diharapkan nanti di kuartal pertama ada progres yang membantu pertumbuhan ekonomi," tutur dia.

Segala perbaikan tersebut berhasil menyelamatkan Indonesia dari tekanan ekonomi global yang banyak menimpa negara-negara lain di dunia termasuk China yang merupakan salah satu raksasa ekonomi dunia.

Namun, Agus mengatakan, Indonesia tidak boleh lengah. Karena bagaimana pun juga, pergerakan ekonomi dunia tentu sedikit banyak akan memberi dampak terhadap perekonomian nasional.

JIka tidak diantisipasi dengan baik, maka bukan tidak mungkin daya tahan Indonesia akan mengalami penurunan.

"Perkembangan ekonomi dunia bisa membuat tekanan yang tidak kita inginkan. Dan perkembangan ekonomi dunia, khususnya di China dan perkembangan harga komoditas seperti minyak, lalu perkembangan geopolitik, itu bisa membuat terjadinya depresiasi karena ada capital out flow di Indonesia. Jadi, oleh karena itu kita perlu mengelola dengan baik," pungkas dia.

(dna/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads