Hingga siang ini, dolar AS terus melemah hingga ke kisaran Rp 13.415.
Chief Economist and Director for Investor Relation Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, pelemahan ini merupakan reaksi kontraksi ekonomi di AS. Penurunan yield obligasi di Negara Paman Sam juga membuat dana investor 'kabur' ke negara-negara lain yang dianggap lebih menguntungkan. Hal tersebut membuat dolar AS tertekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Budi, angka penjualan sejumlah perusahaan AS mengalami penurunan drastis dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini mendorong permintaan terhadap dolar AS semakin menurun.
"Coba lihat perusahaan-perusahaan tekhnologi AS semakin lagi nggak bagus penjualannya dari tahun-tahun lalu sekarang. Lihat saja penjualan kaya Microsoft yang lagi jelek-jeleknya. Ini jadi kekhawatiran yang dorong orang pindahkan dananya ke luar AS," jelasnya.
Meski demikian, Budi melihat, volatilitas dolar ini tidak akan berlangsung lama. Jika ekonomi membaik, dolar akan kembali menguat, karena ini juga yang terjadi pada mata uang negara lain terhadap dolar AS.
"Bukan cuma rupiah, mata uang negara lain juga sama. Artinya yang melemah itu ekonomi di AS, kita stabil. Kalau nanti dolar AS naik lagi juga bukan berarti ekonomi kita jelek. Ini hanya pengaruh short time," kata Budi. (drk/drk)











































