Wall Street Dihantui Tingginya Harga Minyak dan Inflasi

Wall Street Dihantui Tingginya Harga Minyak dan Inflasi

- detikFinance
Kamis, 10 Mar 2005 09:44 WIB
Jakarta - Bursa saham di Wall Street dibayangi kecemasan melonjaknya harga minyak hingga di level US$ 55 per barel dan juga tingginya inflasi. Pukulan terutama sekali dirasakan di pasar obligasi.Tercatat pada Rabu (9/3/2005), Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 107 poin (0,98 persen) ke level 10.805,62. Nasdq turun 12,26 poin (0,59 persen) menjadi 2.061,29. Indeks Standard and Poor's 500 turun 12,42 poin (1,02 persen) ke level 1.207,01. Analis saham di Wall Street menyatakan bahwa kecemasan investor semakin meningkat seiring terus melonjaknya harga minyak dunia dan harga komoditas lainnya yang dapat memicu kenaikan inflasi. "Pasar obligasi telah melemah, dan dolar AS terus berlanjut melamah dan ini akan membawa dampak inflasi yang mencemaskan Wall Street," kata Barry Hyman, equity market strategist dari Ehrenkrantz King Nussbaum seperti dikutip AFP. Obligasi kembali mencatat penurunan setelah Federal Reserve mengeluarkan "Beige Book" tentang perekonomian yang menyatakan bahwa perusahaan akan menghadapi tingginya biaya yang harus dikeluarkan akibat tingginya inflasi. Yield obligasi US treasury dengan jangka waktu 10 tahun meningkat menjadi 4,514 persen dari 4,375 persen pada perdagangan sebelumnya. Sementara untuk obligasi jangka waktu 30 tahun yieldnya juga melonjak menjadi 4,820 persen dari 4,690 persen. Kenaikan Yield ini merefleksikan harga obligasi yang lebih murah. Harga minyak dunia juga terus melonjak. Di pasar New York, harga minyak masih bertahan di level US$ 54,77 per barel yang merupakan level tertinggi sejak 4,5 bulan terakhir. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads