"Pemilihan investasi tidak bisa lepas dari profil risiko masing-masing investor ya," kata Legowo membuka obrolan dengan detikFinance dalam acara media gathering di 90 Gourmet, Jalan LRE Martadinata Bandung, Jawa Barat, Rabu (30/3/2016).
Ia menuturkan, secara umum balance sheet kekayaan rumah tangga masyarakat di Indonesia ini diinvestasikan dalam bentuk tabungan dan deposito. Atau juga dalam bentuk emas dan properti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebutkan, deposito tahun 2015 lalu return-nya mencapai 5,5% net dan menjadi yang tertinggi dibandingkan produk investasi lainnya. Apalagi dibandingkan saham yang sampai -12% pada tahun lalu.
"Deposito itu bagus. Tapi kalau dikurangi inflasi saat sebelum November yang 7-8% itu artinya jadi negatif sebenarnya kan padahal itu return terbaik," tutur Legowo.
Pemilihan investasi itu menjadi tantangan tersendiri karena dari satu sisi deposito dan tabungan terbilang aman. Namun, ada pilihan lain yang lebih optimum yaitu reksa dana.
"Kendaraan paling tepat adalah pada instrumen adalah yang mudah dicairkan dan bisa ditempatkan seperti tabungan serta bisa dicicil dan return-nya bagus itu reksa dana pasar uang," terangnya.
Ia mencontohkan di Manulife reksa dana pasar uang tahun lalu return-nya mencapai 6,7%.
Dengan memindahkan ke reksa dana, maka investor bisa mendapatkan return yang lebih menarik.
"Dengan memindahkan ke reksa dana saat lesu itu sudah membantu dana kita supaya tidur nyenyak, tapi agak bergerak," ujar Legowo.
Bagi masyarakat yang akan mencoba berinvestasi di reksa dana, ia mengarahkan supaya calon investor untuk mencoba dalam jumlah yang kecil misalnya 5% dari pendapatan.
Jika ingin mendapatkan manfaat lebih, maka bisa dipilih yang risikonya lebih besar. (tya/drk)











































