Direktur Utama PP Properti Taufik Hidayat menjelaskan, hingga saat ini proyek-proyek yang dikembangkan pihaknya berjalan sesuai dengan rencana dan mendapatkan respons positif dari konsumen.
"Kami baru saja melakukan topping off Venetia Tower di Grand Sungkono Lagoon dan akan segera melakukan groundbreaking tower 3 di proyek ini," tutur Taufik, dalam keterangan resminya, Kamis (14/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PPRO juga tengah dalam proses penjualan 1 tower berikutnya, Caspian Tower. Total 5 tower akan dibangun di Grand Sungkono Lagoon (GSL) yang semuanya memiliki konsep green smart living concept.
Perseroan juga akan menghadirkan Kidzania, sebuah pusat rekreasi berkonsep EDUTAINMENT yang unik bagi anak-anak usia 2-16 tahun serta orang tuanya, di mal Grand Sungkono Lagoon, Surabaya. Sebelumnya, Kidzania hanya hadir di Pacific Place, Jakarta.
GSL dirancang dengan memperhatikan aspek keluarga dan pengembangan generasi muda. Oleh karena itu, GSL memiliki rancangan ruang terbuka hijau yang dilengkapi dengan banyak taman bermain anak untuk perkembangan fisik, mental, dan kecerdasannya. Fasilitas tersebut kini makin lengkap dengan hadirnya Kidzania.
Grand Sungkono Lagoon merupakan kawasan superblok yang berlokasi selangkah dari gerbang tol Satelit, Surabaya Barat, serta dirancang dengan mempertimbangkan berbagai aspek green-building dan konsep smart-home demi gaya hidup sehat bagi para penghuni.
Selain Grand Sungkono Lagoon, BUMN properti dengan kode saham PPRO ini juga mengembangkan superblok Grand Dharmahusada Lagoon seluas 4,2 hektare di Surabaya dan Grand Kamala Lagoon di Bekasi. Keduanya menawarkan konsep mixed use yang mengintegrasikan kawasan hunian dan komersial.
"Tower South Barclay di Grand Kamala Lagoon juga akan menjadi setengah serviced apartments," ungkapnya.
Taufik menambahkan, perusahaan juga akan segera melakukan groundbreaking 3 tower lainnya, yaitu 2 tower di Amartha View dan 1 tower di Jababeka pada tahun ini.
Dari proyek Amartha View, PPRO menargetkan dapat meraup total marketing sales Rp 2 triliun dari keseluruhan proyek yang dikerjakan dalam 3 tahap dan diharapkan rampung pada 2026.
Secara keseluruhan, Amartha View akan dibangun 7 tower (2 Tower di fase 1, 3 Tower di fase ke-2 dan 2 Tower di fase ke-3) di kawasan ini. Untuk keseluruhan proyek Amartha View, PPRO menggelontorkan investasi Rp 350 miliar.
Pada tahap pertama, Amartha View akan dibangun 1 tower yang memiliki 798 unit apartemen dengan Harga awal adalah Rp 13 juta per m2 dan ditargetkan rampung pada 2017.
Amartha View Avartment merupakan salah satu proyek terbaru perseroan di Semarang Barat. Lokasi apartemen ini berada dalam kawasan Payon Amartha yang saat ini sukses memasarkan rumah tapak yakni Amartha Residence dan Amartha Regency.
Sementara itu, pembangunan tower di kawasan industri Jababeka merupakan kelanjutan dari kerja sama dengan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. Untuk proyek joint venture apartemen Riverview Residences dan Riverwalk Commercial Park.
Taufik mengatakan, kerja sama ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi kinerja kedua belah pihak. Apalagi, kedua pihak memiliki kompetensi di bidang masing-masing yang dapat memberikan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen.
"Kerja sama ini akan berkontribusi terhadap pencapaian target pemasaran yang telah ditetapkan PP Properti sebesar 30%. Kami melihat tahun 2016 akan lebih baik dalam pendapatan bagi PP Properti dengan membangun megaproyek di Jabodetabek dan daerah seperti Surabaya dan Semarang, di mana kebutuhannya tinggi dan kelas menengahnya sedang berkembang," ujarnya.
BELANJA MODAL
Dari sisi belanja modal, pada tahun ini PPRO menyiapkan dana Rp 1,25 triliun, atau naik 67% dari belanja modal pada tahun 2015 senilai Rp 750 miliar. Sebagian besar belanja modal akan dipakai untuk akuisisi cadangan lahan baru yang menjadi dasar pertumbuhan perseroan ke depan.
Taufik menjelaskan, landbank yang akan diakuisisi akan berlokasi di area-area strategis dan bernilai tinggi serta tidak jauh dari pintu tol.
"Sumber dananya dapat berasal dari kas internal maupun pendanaan eksternal seperti MTN (medium term notes) yang siap diterbitkan dengan total nilai Rp 1,3 triliun," sebut dia.
Dengan rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas yang hanya 0,28 kali, serta kemampuan perseroan untuk memenuhi kewajiban bunganya lebih dari 11 kali dari laba sebelum pajak dan bunganya, maka penerbitan utang akan memberikan leverage yang baik kepada perseroan tanpa menambah profil risiko.
Belanja modal pada tahun ini diharapkan akan mendorong pertumbuhan prapenjualan dan pendapatan perseroan yang ditargetkan masing-masing sebesar 30% menjadi Rp 2,6 triliun dan 40% menjadi Rp 2,01 triliun.
PPRO memperkirakan pertumbuhan prapenjualan dan pendapatan ini akan mendorong pertumbuhan laba bersih perseroan sebesar 25% pada tahun 2016. (drk/ang)











































