Direktur Utama Antam, Tedy Badrujaman, mengatakan setelah penandatanganan ini, kedua perusahaan akan membentuk perusahaan gabungan (joint venture) yang diberi nama PT Inalum Antam Alumina. Perusahaan patungan ini nantinya akan berpatner dengan perusahaan China, China Alumunium Company.
"Kerja sama ini merupakan langkah penting dalam upaya kami terus meningkatkan nilai cadangan bauksit Indonesia yang besar. Dalam usaha patungan SGAR tersebut Antam akan mensuplai kebutuhan bahan baku bijih bauksit dari tambang bauksit kami," katanya di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (14/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inalum saat ini memiliki kapasitas peleburan aluminium sebesar 250.000 ton setahun, dengan kebutuhan alumina sebesar 500.000 ton setahun," jelas Tedy.
Sementara dari porsi saham, lanjut Tedy, Antam memiliki porsi saham sebanyak 40%, sementara Inalum jadi pengendali dengan kepemilikan 60%.
"Setelah terbentuk, baru perusahaan baru ini akan bernegosiasi dengan patner kita dari China. Kita minta yang penting mayoritas, mau mereka 45% atau 49% masih dinegosiasikan. Sekarang kan kita sudah satu suara," kata Tedy.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Inalum, Winardi Suroto menuturkan, dengan adanya pabrik alumina, impor alumina untuk memproduksi aluminium ingot akan berkurang siginifikan.
"Inalum sendiri berencana meningkatkan kapasitas pabrik smelter pengolahan alumina menjadi 500.000 ton setahun pada 2020, sehingga membutuhkan 1 juta ton alumina setahun sebagai bahan baku," tutur Winardi. (ang/ang)











































