Dolar AS Dekati Rp 13.700, Ini Kata Gubernur BI Agus Marto

Dolar AS Dekati Rp 13.700, Ini Kata Gubernur BI Agus Marto

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 25 Mei 2016 13:15 WIB
Dolar AS Dekati Rp 13.700, Ini Kata Gubernur BI Agus Marto
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pagi tadi dolar AS mendekati level Rp 13.700. Mata uang Paman Sam tersebut menembus level tertingginya di Rp 13.680.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS siang ini bergerak di Rp 13.627.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, dari sisi eksternal, ada pengaruh dari Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) yang berencana ingin menaikkan suku bunga acuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kondisi nilai tukar yang relatif lebih lemah itu sepenuhnya karena statement yang kuat dari pejabat-pejabat di The Fed yang meyakini bahwa di Juni dan Juli akan dinaikkan Fed Fund Rate, statement yang cenderung menaikkan bunga itu berdampak ke stabilitas keuangan dunia karena banyak yang kemudian meresponsnya," jelas Agus di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (25/5/2016).

Kemudian juga pengaruh dari Inggris yang besar kemungkinan akan tetap berada di Uni Eropa. Hal ini menimbulkan kepastian bagi kalangan investor pasar keuangan.

"Berita baik dari Inggris yang kelihatannya cenderung untuk tetap di UE makin tinggi dan menimbulkan kepastian dan lagi-lagi masyarakat bereaksi. Jadi hal-hal seperti itu banyak terpengaruh," paparnya.

Di samping itu, juga ada perkembangan dari harga minyak. Ada kekhawatiran harga minyak kembali anjlok setelah Iran memutuskan untuk tidak mengurangi produksi.

"Iran mengambil posisi tidak mau mengurangi jumlah produksi. Dan juga berpengaruh kondisi ini berdampak ke negara dunia termasuk ke Indonesia," terang Agus.

Dari dalam negeri, pengaruh terbesar datang dari tingginya kebutuhan valuta asing oleh berbagai perusahaan untuk pembayaran dividen.

"Banyak korporasi yang memerlukan valas untuk melakukan pembayaran dividen ke luar negeri atau pun kewajiban lain. Jadi secara umum itu adalah bersifat sementara dan BI akan terus ada di pasar untuk terus menjaga," terang Agus. (mkl/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads