Laba kotor tercatat sebesar naik 8,5% menjadi Rp 4,663 triliun. Rasio laba kotor terhadap penjualan sendiri mengalami penurunan menjadi 48,8% dari 49,3% pada semester pertama tahun lalu. Hal ini tidak terlepas dari melemahnya nilai tukar rupiah dibandingkan tahun 2015.
Sementara itu, laba usaha bertumbuh sebesar 10,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan rasio mencapai 15,9% terhadap penjualan bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Vidjongtius mengatakan, hal ini didukung dengan positifnya pertumbuhan seluruh divisi utama yang ada pada Kalbe, sementara kenaikan harga hanya dilakukan untuk beberapa produk tertentu.
"Kinerja 6 bulan pertama memberikan hasil yang sangat baik. Kinerja kuartal II lebih baik dari kuartal I. Pertumbuhan yang baik ini didukung oleh beberapa aspek, misalnya obat resep, produk kesehatan, nutrisi, distribusi semuanya tumbuh positif, termasuk labanya," katanya dalam acara Institutional Investor Day di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/8/2016).
Dengan mempertimbangkan situasi makro ekonomi dan kondisi kompetensi, Kalbe pun tetap mempertahankan target pertumbuhan penjualan sebesar 8-10% untuk tahun ini.
"Kita berharap kuartal III sampai kuartal IV juga terus naik. Karena kalau kita lihat makro cukup baik. Kita optimis target yang sudah kita canangkan awal tahun ini pertumbuhan bisnis 8-10%, sampai hari ini semua in line dan terus melakukan penanaman modal. Capex kita sebagaimana direncanakan di awal Rp 1-1,5 triliun. 6 bulan pertama kita sudah spend Rp 581 miliar," ujarnya.
Sementara itu, mengenai rencana Kalbe untuk peningkatan investasi di sektor Industri Farmasi di Indonesia, Vidjongtius mengatakan, Kalbe telah mempersiapkan anggaran belanja modal sebesar Rp 1-1,5 triliun yang akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi.
"Kita lihat secara spesifik, kalau investasi untuk industri farmasinya positif sekali. Secara kebutuhan volume nasional, kita butuhnya tinggi. Bicara JKM (Jaminan Kesehatan Masyarakat), volumenya pasti naik. Karena jumlah masyarakat yang di-cover oleh BPJS kan bertambah terus. Makanya Pemerintah targetkan sampai 2019 hampir semua masyarakat akan tercover oleh BPJS. Itu artinya volume akan terus meningkat," ujarnya.
"Saya rasa industri farmasi harus invest, karena kalau membuat pabrik itu tidak bisa hanya setahun. Pabrik itu bisa 3 tahun baru jadi. Kalau kita tidak melakukan hari ini, 2-3 tahun ke depan bisa terjadi kekurangan kapasitas. Kalbe sangat terbuka untuk kolaborasi dengan siapa pun apakah lokal atau internasional," pungkasnya. (drk/drk)











































