Kenaikan laba ini ditopang karena keikutsertaan perusahaan dalam program revaluasi aset yang diprakarsai pemerintah. Sedangkan penurunan pendapatan disebabkan demand atau permintaan semen yang berkurang.
Volume penjualan domestik tercatat sebesar 7,9 juta ton pada triwulan II-2016, di mana 3,7% (309 ribu ton) lebih rendah dari penjualan tahun lalu. Permintaan semen domestik menurun dari 28,3% di triwulan II-2015 menjadi 26,6% di periode yang sama tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasar kita kan semen kantong. Mostly kan project untuk rumahan, sementara project residential yang belum jalan, ada kalau infrastrukturnya kan lumayan second half kan anggaran yang dipakai itu kan akan lebih besar. Saya merasa developer dan kebanyakan orang akan mulai mau bangun semester II, kita optimis," imbuhnya.
Akibat melambatnya konsumsi domestik, volume penjualan semen dan klinker ekspor justru mengalami peningkatan sebesar 159,7% dari 73 ribu ton pada triwulan II-2015 menjadi 190 ribu ton pada periode yang sama tahun 2016.
Margin EBITDA menurun dari 32,5% pada triwulan II-2015 menjadi 31,8% di triwulan II-2016. Melihat situasi pasar yang lemah, tentunya pencapaian margin yang relatif stabil karena Indocement melakukan efisiensi biaya, khususnya dalam pengurangan biaya-biaya tetap yang cukup signifikan, dan mengutamakan pasokan ke pasar terdekat dengan pabrik dan terminal semen.
Christian mengatakan, saat ini Indocement mengantisipasi permintaan domestik yang diperkirakan akan lebih banyak setelah diluncurkannya program tax amnesty dan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia.
Untuk dapat bersaing, Christian mengungkapkan, akan ada pabrik baru yang berteknologi efisien (P14) dengan kapasitas 4,4 juta ton di Kompleks Pabrik Citeureup. Saat ini, P14 dalam tahap penyelesaian akhir dan diperkirakan akan beroperasi pada triwulan III-2016.
"P14 ini biaya produksinya lebih murah dibandingkan dengan yang lainnya ada saving dari 70 sampai 100 per ton dengan harga yang berkurang sehingga bisa lebih berkompetisi," kata Christian. (drk/drk)











































