Akumulasi Sentimen Negatif
IHSG Anjlok 27,597 Poin
Kamis, 24 Mar 2005 16:28 WIB
Jakarta - IHSG pada perdagangan Kamis (24/3/2005) ditutup anjlok 27,597 poin (2,41 persen) pada level 1.114,551. Anjloknya indeks merupakan akumulasi sentimen negatif. Indeks LQ 45 turun 6,556 poin pada level 240,418, JII turun 4,872 poin pada level 175,712, MBX turun 7,141 poin pada level 295,001 dan DBX turun 7,358 poin pada level 267,145.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 30.179 kali pada volume 5.121.039 kali senilai Rp 2,443 triliun. Sebanyak 19 saham naik, 147 saham turun dan 198 saham stagnan. Saham-saham yang turun harganya di top loser diantaranya Indocement turun Rp 250 menjadi Rp 2875, Indosat turun Rp 250 menjadi Rp 4950, United Tractor turun R 175 menjadi Rp 3025, BCA turun Rp 175 menjadi Rp 3600, BRI turun Rp 150 menjadi Rp 2825, Bank Danamon turun Rp 100 menjadi Rp 4900 dan Telkom turun Rp 75 menjadi Rp 4550.Sedangkan saham yang naik harganya di top gainer diantaranya HM Sampoerna naik Rp 50 menjadi Rp 10.350, Indorama Syntetic naik Rp 10 menjadi Rp 740, Asiaplast Industries naik Rp 5 menjadi Rp 45, Dharmala Intiland naik Rp 5 menjadi Rp 430 dan Daeyu Orchid Indonesia naik Rp 5 menjadi Rp 345. Menurut Fendy Susianto, analis senior BNI wealth management, penurunan indeks yang tajam ini merupakan akumulasi sentimen negatif. Sentimen negatif itu adalah kenaikan suku bunga AS yang membuat saham global turun, kekhawatiran meningkatnya inflasi akibat BBM, penundaan penerbitan obligasi global Indonesia. Selain itu menurut Fendy, kacaunya penjualan saham BCA juga berdampak buruk karena berimbas pada turunya saham-saham perbankan. Pelemahan indeks, lanjut Fendy, juga dipicu oleh antisipasi menjelang libur panjang akhir pekan."Kombinasi tekanan-tekanan diatas membuat indeks turun tajam. Ini juga sebagai bagian dari koreksi indeks karea sudah naik terlalu tinggi sehingga investop mengambil posisi ambil untung," katanya. Menurutnya, meski investor asing melakukan net selling, namun itu tidak berarti mereka sudah meninggalkan pasar saham Indonesia karena di beberapa saham khususnya telekomunikasi, mereka sempat terlihat terus melakukan pembelian. Fendy memperkirakan penurunan indeks tidak akan brlangsung lama. Namun pada pekan depan akan terjadi konsolidasi sebelum idneks naik lagi.
(qom/)











































