Jika terlalu kuat, rupiah bisa berdampak buruk terhadap bisnis importir Indonesia karena ongkos menjadi tinggi. Sebaliknya jika terlalu lemah, rupiah juga mengganggu bisnis eksportir karena pemasukan berkurang.
Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Suryadi Sasmita, pemerintah harus menjaga nilai tukar rupiah stabil dan bertahan di angka yang menguntungkan kedua belah pihak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, rupiah yang terus menguat dalam beberapa hari terakhir merupakan efek psikologis dari pengusaha yang cenderung menjual dolar, sehingga rupiah menjadi semakin menguat.
"Ini psikologis saja. Orang jadi takut. Jual dolar semua. Apalagi di media dikatakan sampai 2017 ini masih menurun. Jadi takut dan banyak yang jual. Jadi psikologis. Jadi orang semakin jual, rupiah semakin kuat jadinya," pungkasnya.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah sempat menguat cukup signifikan terhadap dolar AS hingga mencapai level Rp 12.900-an. Namun penguatan rupiah yang terlalu signifikan, ternyata tidak baik bagi perekonomian negara seperti Indonesia.
Sebab saat ini Indonesia berada dalam kondisi defisit pada neraca perdagangan barang dan jasa, sehingga seharusnya mampu mendorong ekspor dan mempersempit defisit tersebut. (ang/ang)











































