Follow detikFinance
Senin 31 Oct 2016, 17:39 WIB

Turun 6%, Astra Raup Laba Rp 11,27 Triliun

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Turun 6%, Astra Raup Laba Rp 11,27 Triliun Foto: Dokumentasi Astra International
Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih sebesar Rp 11,277 triliun sepanjang 9 bulan pertama tahun 2016 atau yang berakhir 30 September 2016. Laba bersih ini turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 11,997 triliun. Laba bersih per saham menurun 6% menjadi Rp 279 dari Rp 296.

Pendapatan juga tercatat turun 4% dari Rp 138,177 triliun menjadi Rp 132,294 triliun di periode September 2016.

Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp 2.611 pada 30 September 2016, meningkat 4% dibandingkan dengan posisi akhir 2015.

Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto, menyebutkan laba bersih Grup Astra selama 9 bulan pertama menurun, walaupun terjadi kenaikan
keuntungan pada sektor otomotif dari peluncuran produk baru. Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan harga komoditas yang berpengaruh negatif terhadap sektor alat berat dan kontraktor penambangan, serta kenaikan signifikan pada provisi kerugian atas pinjaman yang diberikan pada PT Bank Permata Tbk yang berujung terhadap menurunnya kontribusi dari sektor bisnis jasa keuangan.

"Kinerja Grup Astra pada tahun ini diharapkan merefleksikan terus membaiknya kinerja bisnis otomotif. Bersamaan dengan beberapa peningkatan kinerja di bisnis agribisnis serta sedikit pulihnya bisnis alat berat dan pertambangan, walaupun masih ada kekhawatiran terhadap tingkat kredit bermasalah di Bank Permata," ujar Prijono dalam keterangan resmi yang dikutip detikFinance, Senin (31/10/2016).

Grup Astra mengalami penurunan pendapatan bersih di sektor alat berat dan pertambangan serta agribisnis, sementara kontribusi pendapatan bersih dari Toyota Sales Operation juga berkurang setelah restrukturisasi model distribusi dua tingkat (two-tiered) berlaku efektif pada
awal tahun ini.

Nilai kas bersih, di luar Grup Jasa Keuangan, mencapai Rp 5,5 triliun pada 30 September 2016, dibandingkan nilai kas bersih pada akhir tahun 2015 sebesar Rp1,0 triliun. Anak perusahaan Grup segmen Jasa Keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 41,9 triliun, dibandingkan dengan Rp 44,6 triliun pada akhir tahun 2015.

Otomotif

Laba bersih dari segmen otomotif Grup naik 12% menjadi Rp 6,0 triliun selama periode sembilan bulan, sebagian besar merupakan dampak dari peluncuran model baru yang turut berdampak positif terhadap marjin.

Penjualan mobil secara nasional meningkat sebesar 2% menjadi 783.000 unit. Penjualan nasional mobil Astra naik sebesar 10% menjadi 422.000 unit, sehingga meningkatkan pangsa pasar menjadi 54% dari 50%. Grup telah meluncurkan sepuluh model baru dan tujuh model revamped selama periode ini.

Penjualan sepeda motor nasional menurun sebesar 10% menjadi 4,4 juta unit. Sementara penjualan sepeda motor dari PT Astra Honda Motor (AHM) mengalami penurunan 3% menjadi 3,2 juta unit, meski pangsa pasar meningkat menjadi 73% dari 68% dengan didukung oleh peluncuran enam model baru dan delapan model revamped selama periode ini.

Laba bersih PT Astra Otoparts Tbk, bisnis komponen Grup, meningkat 59% menjadi Rp 284 miliar dengan peningkatan pendapatan dari segmen pasar pabrikan otomotif (Original Equipment Manufacturer/OEM), after market dan segmen ekspor.

Jasa Keuangan

Laba bersih dari segmen jasa keuangan Grup menurun sebesar 31% menjadi Rp 2,1 triliun. Kenaikan laba bersih PT Federal International Finance (FIF) dan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) diimbangi oleh penurunan kontribusi dari sektor bisnis jasa keuangan lainnya, terutamanya Bank Permata yang mencatat kerugian akibat peningkatan signifikan pada provisi kerugian atas pinjaman yang diberikan.

Sektor bisnis pembiayaan konsumen menunjukkan kenaikan total pembiayaan sebesar 18% menjadi Rp 53,7 triliun, termasuk melalui joint bank financing without recourse. PT Astra Sedaya Finance (ASF) yang fokus pada pembiayaan roda empat mencatat penurunan laba bersih sebesar 10% menjadi Rp 653 miliar akibat turunnya pendapatan terutama karena menurunnya jumlah unit pembiayaan mobil bekas, sementara pembiayaan roda empat lainnya, PT Toyota Astra Financial Services mencatat peningkatan laba bersih sebesar 11% menjadi Rp 251 miliar.

FIF yang fokus pada pembiayaan roda dua mencatat kenaikan laba bersih sebesar 21% menjadi Rp 1,3 triliun, yang diuntungkan dari kenaikan pangsa pasar dan diversifikasi produk.

Total pembiayaan yang dikucurkan oleh Grup pembiayaan alat berat naik 4% menjadi Rp 3,3 triliun. PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF) yang memiliki spesialisasi di pembiayaan alat berat kelas kecil dan menengah, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 43% menjadi Rp 60 miliar.

Bank Permata, yang 44,6% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, mencatat kerugian bersih sebesar Rp 1,2 triliun sepanjang sembilan bulan pertama dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp 938 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan signifikan provisi kerugian kredit akibat peningkatan kredit bermasalah menjadi 4,9% dari 2,7% pada akhir tahun lalu.

Dalam rangka memperkuat permodalannya, Bank Permata menyelesaikan rights issue pada bulan Juni, yang menghasilkan dana senilai Rp 5,5 triliun.

Perusahaan Grup Asuransi, PT Asuransi Astra Buana, mencatat sedikit penurunan laba bersih menjadi Rp 697 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan underwriting income.

Sepanjang 9 bulan pertama, perusahaan asuransi jiwa patungan bersama antara Astra International dan Aviva Plc, PT Astra Aviva Life, telah berhasil menambah lebih dari 97.000 nasabah asuransi jiwa perorangan. Selain itu, lebih dari 121.000 nasabah asuransi untuk program
kesejahteraan karyawan, dibandingkan dengan 28.500 dan 186.000 nasabah, secara berurutan sepanjang tahun 2015.

Alat Berat dan Pertambangan

Laba bersih dari segmen alat berat dan pertambangan Grup menurun sebesar 43% menjadi Rp 1,9 triliun. PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun, turun 44%, akibat turunnya pendapatan bersih bisnis alat berat dan kontraktor penambangan, terutamanya disebabkan oleh rendahnya harga batu bara. UT juga merasakan dampak negatif dari apresiasi rupiah terhadap translasi aset berdenominasi dolar AS, dimana pada tahun sebelumnya terdapat pengaruh positif terhadap translasi tersebut.

Pada segmen usaha mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu menurun 12% menjadi 1.588 unit, dimana pendapatan bersih dari servis dan suku cadang juga menurun.

PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara mencatat penurunan produksi batu bara sebesar 3% menjadi 79 juta ton dan penurunan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 12% menjadi 524 juta bank cubic metres.

Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 46% menjadi 6 juta ton. PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan laba bersih sebesar Rp 40 miliar pada sembilan bulan pertama, meningkat 210% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Acset mencatatkan penambahan kontrak baru senilai Rp 2,5 triliun sepanjang periode tersebut dibandingkan dengan Rp3,1 triliun sepanjang tahun 2015. Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, Acset menyelesaikan rights issue pada bulan Juni, dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 600 miliar.

Agribisnis

Laba bersih dari segmen Grup Agribisnis meningkat menjadi Rp 913 miliar dari Rp 116 miliar. PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL), yang 79,7% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun, meningkat dari Rp 145 miliar, yang disebabkan oleh keuntungan dari apresiasi rupiah terhadap translasi kewajiban moneter dalam mata uang dolar AS. Di luar keuntungan akibat translasi mata uang asing, hasil kinerja stabil dikarenakan penurunan volume penjualan diimbangi kenaikan harga CPO.

Penjualan CPO menurun 12% menjadi 730.000 ton, dimana harga rata-rata CPO mengalami kenaikan sebesar 5% menjadi Rp 7.588/kg dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penjualan olein menurun 23% menjadi 231.000 ton. AAL menyelesaikan rights issue senilai Rp4,0 triliun pada bulan Juni untuk memperkuat posisi neraca keuangan.

Infrastruktur dan Logistik

Laba bersih dari segmen infrastruktur dan logistik Grup meningkat sebesar 148% menjadi Rp 213 miliar, terutama disebabkan oleh meningkatnya laba bersih dari jalan tol, penjualan mobil bekas dan bisnis logistik.

PT Marga Mandala Sakti (MMS), operator jalan tol yang mengoperasikan jalur Tangerang-Merak sepanjang 72,5km, yang 79,3% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan volume trafik kendaraan sebesar 3% menjadi 35 juta kendaraan. Pembangunan konstruksi sepanjang 40,5km di jalan tol Jombang–Mojokerto yang sepenuhnya dimiliki Grup Perseroan terus berlanjut, dimana sepanjang 14,7km sudah mulai beroperasi. Ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,6km, yang 25% sahamnya dimiliki Grup telah mulai beroperasi sepanjang 22,8km.

Jika ditambahkan dengan kepemilikan 40% saham Grup di jalan tol lingkar luar Kunciran-Serpong sepanjang 11,2km dan 25% saham di jalan tol Serpong-Balaraja sepanjang 30km, maka total jalan tol yang dimiliki Grup saat ini mencapai 226,8km.

PAM Lyonnaise Jaya, perusahaan penyedia air bersih yang melayani wilayah barat Jakarta mencatat kenaikan penjualan volume air bersih sebesar 3% menjadi 120 juta meter kubik.

Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) meningkat 43% menjadi Rp68 miliar. Peningkatan laba bersih dari penjualan kendaraan bekas dan bisnis logistik berpengaruh lebih besar daripada penurunan 6% jumlah kendaraan tersewa di bisnis leasing dan rental.

Teknologi Informasi

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup turun sebesar 15% menjadi Rp 105 miliar. PT Astra Graphia Tbk, yang 76,9% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 15% menjadi Rp 137 miliar, disebabkan oleh menurunnya marjin meskipun
terjadi peningkatan pendapatan.

Properti

Laba bersih dari segmen properti Grup sebesar Rp 84 miliar, meningkat secara siginifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015 yang sebesar Rp5 miliar.

Konstruksi Anandamaya Residences, proyek residensial eksklusif berlokasi di pusat bisnis Jakarta, yang 60% sahamnya dimiliki oleh Perseroan dan telah terjual 92%, serta gedung perkantoran grade A dari Grup, Menara Astra, terus berlanjut dan diharapkan dapat rampung sesuai dengan rencana dan selesai pada tahun 2018.

Prospek Bisnis

Kinerja Grup Astra pada tahun ini diharapkan merefleksikan terus membaiknya kinerja bisnis otomotif, bersamaan dengan beberapa peningkatan kinerja di bisnis agribisnis serta sedikit pulihnya bisnis alat berat dan pertambangan, walaupun masih ada kekhawatiran terhadap tingkat kredit bermasalah di Bank Permata. (drk/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed