Rupiah Merosot Tajam, BI: Pembelian Dolar AS Tidak Dibatasi

Rupiah Merosot Tajam, BI: Pembelian Dolar AS Tidak Dibatasi

Yulida Medistiara - detikFinance
Jumat, 11 Nov 2016 16:14 WIB
Rupiah Merosot Tajam, BI: Pembelian Dolar AS Tidak Dibatasi
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Rupiah merosot tajam. Dolar Amerika Serikat (AS) sempat meroket hingga ke level tertingginya di Rp 13.485. Mengutip data perdagangan Reuters, dolar AS sore ini bergerak di Rp 13.260.

Apa tanggapan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara?

"Gini ya, memang pada waktu Trump menang gitu kan dia kan biasa lah namanya market bikin analis-analisis mengenai dunia, dampaknya ke negara berkembang, karena kalau AS memang kemudian jadi proteksionisme, kemudian ekspor dari negara berkembang ke AS kemudian terhambat," kata dia saat ditemui di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Jumat (11/11/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebijakan-kebijakan yang akan diambil Trump sebagai pemenang Pemilihan Presiden AS salah satunya adalah mengenakan bea masuk yang tinggi atas barang-barang dari luar termasuk China. Hal ini dilakukan agar barang-barang AS tidak kalah saing dengan barang yang datang dari luar yang lebih murah.

"Analisis-analisis itu menurut kami sih ada dasarnya, tapi itu buat negara yang sangat berkaitan dengan AS, sehingg pada 8-9 November currency seperti Mexico kan melemah 10% dalam sehari, walaupun kemudian di akhir hari Meksiko melemah 7%. Analis-analisis seperti itu masih berkembang sampai kemarin malam, namanya juga pasar ya," jelas dia.

Meski demikian, kata Mirza, secara fundamental, pasar keuangan Indonesia dalam kondisi baik, sehingga sentimen negatif tersebut hanya bersifat sementara. Melihat kondisi tersebut, pembelian dolar AS di pasar uang tidak akan dibatasi.

"Memang ada penyebab lain selain masalah analis terhadap Trump, memang ada kekhawatiran di pasar apakah Indonesia akan lakukan kebijakan di currency market, membatasi trading di currency market seperti yang dilakukan negara tetangga. Saya tegaskan bahwa Indonesia tidak akan membatasi perdagangan valas di pasar uang karena yang paling terbaik adalah biarkan pasar berjalan dengan baik," pungkasnya. (drk/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads