Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan karena sentimen pasar akibat terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS. Selain itu, spekulasi pasar akan kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate (FFR) juga ikut mempengaruhi pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Menurut Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan dirasakan pekan depan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke depan masih akan dipengaruhi oleh kebijakan yang akan diterapkan Trump sebagai presiden terpilih AS 2016-2020.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, janji-janji kampanye Donald Trump tidak sepenuhnya akan direalisasikan. Hal ini dikarenakan kebijakan yang ia janjikan dalam kampanyenya membuat sentimen negatif di pasar keuangan dunia.
"Donald Trump ini masih berubah-ubah ya. Apa yang dikhawatirkan selama kampanye itu kemungkinan besar memang tidak akan terjadi karena apa yang dia jual dalam kampanye kontroversinya terlalu besar untuk global," kata Lana.
Trump effect dalam beberapa waktu ke depan masih akan mempengaruhi pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga diminta untuk senantiasa waspada menjaga nilai tukar rupiah agar tidak merosot terlalu dalam.
"Memang masih ada lah dalam jangka pendek kita belum betul-betul aman ini sebetulnya," tutur Lana. (dna/dna)











































