Pelemahan IHSG tersebut bisa menjadi peluang bagi para investor untuk mengoleksi saham-saham yang harganya sedang murah. Setidaknya ada 5 saham emiten yang diprediksi mampu menunjukkan kembali penguatannya, di antaranya BRI (BBRI), BCA (BBCA), Waskita (WSKT), Telkom (TLKM) dan Indofood (ICBP).
"Kalau kita lihat kuartal III, pemodal pasti akan membeli saham yang kinerjanya bagus. Kuartal III yang bagus kinerjanya ada 5 emiten yaitu BRI, BCA, Telkom, Waskita dan ICBP," ujar Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (15/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dilihat dari pergerakan harga dan volatilitasnya, BRI dan ICBP. Karena memang biasanya kisaran harganya sangat lebar, sehingga kalau rebound mereka termasuk cepat. Karena kuartal III mereka kinerjanya bagus. Nomor satu yang paling banyak dibeli orang kan yang bagus kinerjanya," tambahnya.
Seiring dengan membaiknya harga komoditas juga akan mempengaruhi saham-saham emiten komoditas yang diprediksi mampu naik kembali.
"Karena memang rata-rata harga komoditas ke depan masih akan cukup tinggi. Cuma memang harga komoditas untuk jangka pendek," katanya.
IHSG memang berada di level rendah selama sepekan terakhir. Satrio mengatakan, support IHSG bisa berada di level 5.128, dan resistance di level 5.250. Sentimen dari naiknya suku bunga AS masih menjadi pemicu hal ini.
"Sepertinyanya IHSG kita memang berada di support level 5.128. Hari ini kayaknya sedang resisten testing 5.160. Kalau bisa ditembus sepertinya paling tidak 5.250. Suku bunga Amerika pasti akan naik di bulan Desember. Kalau saya melihat itu nanti reaksi dia akan terpilihnya Trump," tutur Satrio.
Untuk diketahui, indikasi The Fed menaikkan suku bunga hingga dua kali dalam waktu dekat seketika membuat harga saham emiten di Indonesia anjlok. Sebut saja, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang pada penutupan pekan lalu turun 725 poin (5,71%) ke level Rp 11.975 per saham.
Namun demikian, kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dijamin baik dipercaya membuat para investor masih percaya untuk menaruh dananya di Indonesia. Meski diprediksi sulit untuk mencapai kembali IHSG di level tertingginya, namun bertahan di level 5.000 saja dianggap sudah baik untuk pasar saham Indonesia.
"Sampai akhir tahun saya berharap IHSG di atas 5.000 atau 5.200. Tapi kalau rekor lagi mungkin agak sulit. Dengan tekanan jual yang dilakukan pemodal asing seperti ini, dan perkembangan global agak sulit bagi IHSG untuk bergerak naik yang terlalu signifikan. Tapi kalaupun ada koreksi, cukup terbatas. Karena fundamental ekonomi kita tidak jelek. Saya kira harapan kita, IHSG setidaknya masih bergerak positif di 5.200-5.300," tukas Satrio. (drk/drk)











































