Sumalindo Anggarkan Capex US$ 5-7 Juta Tahun 2005
Kamis, 07 Apr 2005 15:17 WIB
Jakarta - Perusahaan kayu, PT Sumalindo Lestari Jaya tbk menganggarkan biaya investasi (capital expenditure atau capex) tahun 2005 sebesar US$ 5-7 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk perbaikan mesin, pembelian alat berat dan perluasan hutan tanam industri. "Seluruh dana berasal dari internal perusahaan," kata Dirut Sumalindo, Amir Sunarko di kantornya, Menara Danamon, Jakarta, Kamis (7/4/2005).Amir menjelaskan, jumlah capex yang dikeluarkan perseroan itu rata-rata setiap tahun besarnya sama, dimana pada tahun 2004 mencapai US$ 6 juta. Dijelaskan, harga produk kayu seperti plywood masih akan mengalami kenaikan pada tahun 2005 seiring naiknya kayu log tahun ini yang diperkirakan tumbuh 20-30 persen dibanding sebelumnya. Karena itu Sumalindo menargetkan pertumbuhan penjualan tahun 2005 sebesar 10-15 persen dibanding tahun 2004 yang diperkirakan sebesar Rp 773 miliar. Hampir 90 persen produk plywood perseroan diekspor ke Eropa, Korea, AS, Australia dan Jepang. Sedangkan sisanya adalah untuk pasar lokal. Menurut Amir, saat ini perseroan belum memiliki rencana untuk pindah ke bisnis lainnya. Namun perseroan akan melakukan diversifikasi jenis kayu yang akan dihasilkan selain yang sudah ada saat ini. Per Desember 2004, kata Amir, perseroan telah menandatangani penyelesaian restrukturisasi kembali utangnya dengan kreditur sebesar US$ 103 juta, dimana sebagian utang itu sebesar US$ 35 juta dikonversi menjadi modal. Selain itu, seluruh kewajiban kepada pemerintah berupa utang dana reboisasi sebesar US$ 3,7 juta dan Rp 11,6 miliar juga telah dilunasi. Sisa utang perseroan akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12-15 tahun. Perseroan baru akan membayar utang pokok mulai tahun 2008, dimana dalam 3 tahun pertama sejak tahun 2005, perseroan hanya membayar bunga. Sumalindo juga masih mengalami defisiensi modal sebesar Rp 700 miliar sejak adanya krisis. Rencananya, perseroan akan melakukan kuasi reorganisasi untuk menghapus defisit modal tersebut. "Namun itu masih dalam pengkajian," ujar Amir. Mengenai utang kreditur yang telah dikonversi menjadi saham, Amir mengatakan akan ada lock up selama 1 tahun, sehingga pemegang saham tersebut belum bisa saham tersebut ke pasar.
(qom/)











































