Setelah melakukan penyelidikan, Direktur Utama (Dirut) BEI Tito Sulistio, menemukan ada praktik marking the close yang membuat nilai transaksi melonjak di detik-detik terakhir perdagangan.
Karena sistem perdagangan BEI bersifat tertutup untuk pasar, sehingga sulit untuk mengetahui saham apa yang dipermainkan di menit-menit akhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, kata Tito, di regional hanya pasar modal Indonesia yang seperti itu. Seperti Malaysia yang membuka setiap kejadian yang terjadi di menit-menit akhir.
"Sementara Thailand untuk mengantisipasi itu dengan melakukan random closing. Jadi 10 menit terakhir order saja masuknya. Tahu-tahu, dor, penutupan. Pasar tidak tahu bursa juga tidak tahu," imbuhnya.
Sistem Pra Penutupan atau Pre Closing adalah waktu 10 menit menjelang penutupan (15.50-16.00 JATS) setelah itu masuk Pasca Penutupan atau Post Closing (16.00-16.15 JATS).
Nah, pada waktu Pre Closing ini transaksi tidak bisa dilihat di monitor atau disebut para pelaku bursa dengan istilah pasar gelap. Pesanan akan 'adu kuat' antara investor yang mau jualan di bawah harga terakhir dengan pihak yang mau membeli setinggi-tinginya dengan volume yang terbanyak. (ang/ang)











































