Menurut Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, sering kali pergerakan IHSG terpengaruh adanya praktik marking the close. Karena sistem perdagangan BEI bersifat tertutup untuk pasar, sehingga sulit untuk mengetahui saham apa yang dipermainkan di menit-menit akhir.
"Ternyata kalau dilihat di dunia beberapa negara, memang kita itu paling volatile (fluktuatif). Ada apa nih? Ternyata setiap preclosing kita tidak tahu kejadian yang terjadi di 10 menit terakhir," terangnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara Thailand untuk mengantisipasi itu dengan melakukan random closing. Jadi 10 menit terkahir order saja masuknya. Tahu-tahu, dor, penutupan. Pasar tidak tahu bursa juga tidak tahu," imbuhnya.
BEI kini tengah mengkaji dua skema tersebut. Untuk saat ini BEI akan mencoba untuk membuka setiap perdagangan di menit-menit akhir. Jika belum cukup BEI juga akan menggunakan random closing.
Baca juga: Bos BEI Kaget Perdagangan Saham Selalu Ramai Setiap Mau Tutup
"Itu dua alternatifnya. Kita sudah bicara ke APEI (Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia). Mereka inginnya lebih dibuka saja. Tapi kita cari yang terbaik," tambahnya.
Jika pilihannya random closing, maka penentuan batas penutupan harga saham maaupun IHSG akan ditentukan secara acak dalam rentang waktu 15.50 WIB - 16.00 WIB. Namun untuk itu BEI harus merubah sistem perdagangan.
"Dan itu bukan berarti kita yang menentukan di mana berhentinya. Itu yang tentuin mesin. Jadi BEI juga tidak tahu," tegasnya. (ang/ang)











































