Presiden Direktur BUMI Ari S. Hudaya mengatakan, tahun ini perseroan akan fokus menjual batu bara di dalam negeri. Terbukti dari target penjualan batu bara domestik tahun ini sebesar 40,86 juta ton.
"Penjualan batu bara BUMI tahun ini, paling besar masih di domestik," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (23/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara hingga Januari 2017, BUMI sendiri telah menjual batu bara sebesar 7,07 juta ton. Penjualan terbesar dalam satu bulan pertama masih ke India sebesar 2,63 juta ton.
"Untuk penjualan di Indonesia sendiri itu sebanyak 2,43 juta ton pada Januari," imbuhnya.
Sekedar catatan, pada 2016 kemarin BUMI berhasil laba bersih di 2016 sebesar US$ 100,6 juta (belum diaudit). Raihan tersebut sangat positif, sebab perseroan sebelumnya sempat mengalami rugi bersih di 2015 sebesar US$ 2 miliar.
Ari menjelaskan, raihan laba tersebut lantaran perseroan berhasil menekan biaya produksi. Sehingga BUMI bisa bertahan ditengah anjloknya harga komoditas batu bara di 2016.
"Kita selalu jaga cost, itu yang membuta kinerja kami positif," tuturnya.
Penekanan biaya produksi BUMI paling terlihat pada porsi biaya bahan bakar terhadap biaya kas produksi perusahaan. Tercatat porsi biaya bahan bakar 2016 sebesar US$ 3,8 turun dari 19% menjadi 14%.
Dalam laporan keuangan BUMI tercatat biaya bahan bakar di 2016 hanya US$ 3,8 per ton batu bara. Sedangan biaya bahan bakar di 2015 sebesar Us$ 5,6 per ton batu bara.
"Kita memang tidak bisa menentukan harga bahan bakar itu pemerintah, tapi kita bisa menekan penggunaannya. Ini akan kita lakukan terus," imbuhnya.
Biaya operasional BUMI di 2016 sebesar US$ 37,6 juta. Sementara dari sisi pendapatan BUMI 2016 sebesar US$ 23,4 juta. Namun ada porsi penghasilan lainnya sebesar US$ 67,1 juta. (dna/dna)











































