Dividen ini adalah 39% dari laba non-konsolidasi BTPN pada tahun buku 2016 sebesar Rp 1,46 triliun. Ini merupakan dividen pertama kali dalam delapan tahun terakhir, sejak perseroan menjadi perusahaan publik pada 2008.
"Agak sedikit berbeda dengan tahun-tahun lalu, tahun ini kita ada membagikan dividen. Kita sudah delapan tahun ini memupuk modal. Tapi tahun ini kita merasakan sudah waktunya kita juga memberikan sedikit kepada pemegang saham kita dan mempertimbangkan jumlah kecukupan modal kita jauh di atas rata-rata industri. Jadi kami memutuskan tahun ini bayar dividen Rp 100 per lembar," kata Direktur BTPN, Anika Faisal, dalam jumpa pers di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (24/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara konsolidasi, per 31 Desember 2016, total aset BTPN mencapai Rp 91,4 triliun atau tumbuh 13% dibandingkan posisi 31 Desember 2015 yang tercatat Rp 81 triliun. Sementara rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 25%, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) terjaga di level yang sangat rendah yaitu 0,8%, dan rasio likuiditas (Loan to Funding Ratio/LFR) di angka 86%.
"Beberapa indikator keuangan ini menunjukkan kondisi fundamental yang sehat dan kuat serta mampu menopang target perusahaan," jelasnya.
Selain menetapkan pembagian dividen tahun buku 2016, RUPST juga menyetujui perubahan pada susunan anggota komisaris.
RUPST menyepakati pergantian anggota dewan komisaris sebelumnya yakni Hiroshi Higuma, digantikan oleh Shinichi Nakamura. Dengan perubahan tersebut, maka susunan anggota Dewan Komisaris BTPN adalah:
- Mari Elka Pangestu sebagai Komisaris Utama (lndependen)
- Arief T Surowidjojo sebagai Komisaris (lndependen)
- Irwan Mahjudin Habsjah sebagai Komisaris (lndependen)
- Chow Ying Hoong sebagai Komisaris
- Shinichi Nakamura sebagai Komisaris.











































