Maskapai dengan Pramugari Berbikini Ingin Buka Rute ke Inggris

Maskapai dengan Pramugari Berbikini Ingin Buka Rute ke Inggris

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Kamis, 06 Apr 2017 14:20 WIB
Maskapai dengan Pramugari Berbikini Ingin Buka Rute ke Inggris
Foto: Dok. VietJet Aviation JSC
Ho Chi Minh -


Banyak cara dilakukan perusahaan untuk menggaet konsumen. Mulai dari ide biasa saja, hingga ide yang menyeleneh seperti yang dilakukan VietJet Air.

Maskapai penerbangan asal Vietnam itu menerapkan kebijakan kepada pramugarinya untuk memakai seragam bikini di rute tertentu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah sukses melepas saham di pasar modal, maskapai penerbangan asal Negeri Lumbung Padi ini berniat melebarkan sayap ke rute-rute yang lebih jauh.

Saat ini VietJet merupakan maskapai berbiaya murah (low cost carrier/LCC) yang bermain di rute-rute regional.

"Kami berencana membuat VietJet jadi maskapai global," kata CEO VietJet Air, Nguyen Thi Phuong Thao, seperti dikutip dari VietnamNews.com, Kamis (6/4/2017).

Maskapai dengan Pramugari Berbikini Ingin Buka Rute ke InggrisFoto: Dok. VietJet Aviation JSC

Ia memberi contoh Emirates yang berasal dari Dubai. Menurutnya, Emirates bisa jadi maskapai internasional meski awalnya tidak dikenal sama sekali.

"Kami akan berusaha supaya VietJet jadi Emirates-nya Asia," ujarnya.

Baca juga: Berkat Pramugari Berbikini, Maskapai Ini Bisa Borong 200 Jet

Tahun ini, VietJet berencana membuka 26 rute baru, paling banyak untuk rute internasional. Total rute yang akan dilayaninya tahun ini menjadi 86. Salah satu rute internasional yang akan dibuka adalah ke Inggris.

Untuk melayani rute-rute baru ini Nguyen memesan 200 pesawat dari Airbus dan Boeing. Nilai pesanannya mencapai US$ 23 miliar (Rp 300 triliun).

Baca juga: Pramugarinya Pakai Bikini, Maskapai Vietnam Ini Raup Omzet Rp 16 T

Pada akhir 2016 lalu, VietJet mencetak rekor omzet sebesar 27,5 triliun dong atau sekitar Rp 16 triliun. Omzetnya ini naik 39% dari perolehan tahun 2015.

Laba VietJet juga melonjak 113% dari tahun 2015 menjadi 2,5 triliun dong atau sekitar Rp 1,4 triliun tahun lalu. (ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads