Sevel Rugi Bertahun-tahun, Apa Prospek Waralaba di RI Memburuk?

Sevel Rugi Bertahun-tahun, Apa Prospek Waralaba di RI Memburuk?

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Selasa, 25 Apr 2017 15:40 WIB
Sevel Rugi Bertahun-tahun, Apa Prospek Waralaba di RI Memburuk?
Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Waralaba 7-eleven mengalami kerugian selama beberapa tahun terakhir. Walaupun sebenarnya pertumbuhan bisnis waralaba di Indonesia masih berkembang. Berdasarkan datanya, bisnis waralaba di Indonesia pada tahun lalu tumbuh hingga 10% pada tahun 2016.

Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit, menilai pasar bisnis waralaba di Indonesia masih memiliki potensi yang besar. Hal itu ditunjukan dari tingkat pertumbuhan pemasukan bisnis waralaba yang meningkat secara nasional, yakni mencapai Rp 200 triliun pada tahun 2016, dari sebelumnya Rp 180 triliun di tahun 2015.

"Bisnis waralaba untuk di Indonesia masih dianggap berprospek dan berkembang baik. Jumlah bisnis waralaba mengalami peningkatan pada tahun 2016 lalu. Kita lihat (bisnis waralaba) yang baru itu sukses, Karena mereka bisa melihat peluang pasar. Mereka bisa melihat apa yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat," kata Levita kepada detikFinance, Jakarta, Senin (24/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Nasib Buruk Sevel di Tengah Ketatnya Pertarungan Waralaba

Untuk tahun ini, Levi memperkirakan bisnis waralaba juga akan terus tumbuh. Ia mengatakan, masih banyak bisnis waralaba asing yang akan mengepakkan sayap bisnisnya di Indonesia.
7-eleven7-eleven Foto: Agung Pambudhy

Berdasarkan catatannya, bisnis waralaba asing lebih banyak dibanding bisnis waralaba dalam negeri. Perbandingannya mencapai 60% waralaba asing, dan 40% waralaba Indonesia.

"Sebenarnya kalau secara jenisnya, banyakan lokal, tapi jumlahnya banyakan asing. Saya kasih contoh, seperti McD, KFC, dia kan jumlah outlet-nya banyak. Kalau Indonesia jenis misalnya restoran indonesia dia kan franchise Indonesia dia outlet-nya tidak sebanyak asing, seperti Solaria, dia outletnya tidak sebanyak asing," terangnya.

Baca juga: Kesalahan Sevel: Diam Saat Dicontek Kompetitor

Menurut Levita, tingginya jumlah waralaba asing yang ada di Indonesia disebabkan beberapa hal. Salah satu faktornya ialah, karena brand waralaba asing yang sudah lebih banyak dikenal oleh masyarakat luas, dan bisa menjaring banyak konsumen.

"Karena respon pasar. Terus tentu secara brand, mereka lebih dulu dibanding (waralaba) Indonesia. Mereka sudah menjalankan bisnis waralaba lebih dulu daripada Indonesia. Jadi kalau tahun ini, perkiraan akan bertambah lagi," tukasnya.

Baca juga: Bisnis Makin Redup, Sevel Akhirnya Dijual (mkj/mkj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads