Benarkah Harga Mahal Penyebab Sevel Ditinggal Konsumen?

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 25 Apr 2017 18:43 WIB
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - 7-eleven alias sevel harus melewati situasi yang cukup buruk dalam dua tahun terakhir. Sempat melejit karena konsep toko sekaligus tempat bersantai pada 2010 lalu, kemudian perlahan ditinggal konsumen.

Sejak tahun lalu, puluhan gerai sevel yang tersebar di wilayah Jabodetabek mulai berguguran.

Sevel yang mulai ditinggal konsumen juga dinilai karena harga barang yang dijual terlalu mahal dibandingkan dengan kompetitor. Apakah benar?

"Mahal itu sebenarnya adalah urusan emosional," ungkap Konsultan Bisnis Djoko Kurniawan kepada detikFinance, Selasa (25/4/2017).

Baca juga: Bisnis Makin Redup, Sevel Akhirnya Dijual
7-eleven7-eleven Foto: rengga sancaya

Bagi Djoko, perbandingan harga sejatinya tidak tergambar pada harga, melainkan emosional dari konsumen. Bila kemudian konsumen mendapatkan emosi positif seperti kebahagiaan atau pengalaman yang lebih baik atau kepuasan dari aktivitas belanja di sevel, maka harga barang yang lebih tinggi bukan sebuah permasalahan.

Begitu juga sebaliknya, ketika emosi negatif yang muncul dari konsumen, maka sedikit saja perbedaan harga akan dipermasalahkan.

"Jadi soal mahal ini jadi sangat sensitif," sebutnya.

Baca juga: Dulu Sevel Ramai Terus, Kok Sekarang Rugi?

Djoko menjelaskan, artinya ketika sevel mematok harga yang lebih mahal dibandingkan tempat lainnya, maka harus bisa memberikan pelayanan yang jauh lebih baik. Misalnya fasilitas kursi dan meja yang lebih banyak, wi-fi, serta area yang bersih, termasuk toilet.

Di samping itu, juga diperlukan tambahan seperti acara nonton bareng sepakbola, penampilan musik secara langsung atau lainnya.

"Konsumen mau untuk membayar lebih asalkan sesuai. Apalagi sevel kan segmennya untuk anak muda. Jadi harus paham juga kebutuhannya," tegas Djoko. (mkj/dna)