Gangguan Produksi di Indonesia, Laba Newmont Turun
Kamis, 28 Apr 2005 11:04 WIB
Jakarta - Perusahaan emas terbesar di dunia, Newmont Mining Corporation mencatat penurunan laba bersih selama kuartal I tahun 2005, akibat tingginya biaya bahan baku, dan gangguan produksi emasnya di Indonesia. Manajemen Newmont, dalam pengumumannya seperti dilansir Reuters, Kamis (28/4/2005), mengaku laba bersihnya selama kuartal pertama tahun 2004 turun US$ 3 juta menjadi US$ 84 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 87 juta. Pendapatannya selama kuartal I 2005 juga turun menjadi US$ 961 juta dari US$ 1,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Selama periode ini, Newmont berhasil menjual 1,99 juta ons emas dengan harga US$ 425 per ons. Pada periode yang sama tahun lalu, Newmont berhasil menjual 2,28 juta ons emas, namun pada harga hanya US$ 412 per ons. Chief Executive Newmont, Wayne Murdy mengatakan, perseroan berharap pada kuartal kedua nanti bisa memperoleh performans yang lebih baik karena akan mulai memperoleh keuntungan dari kapasitas ladang yang baru dan kandungan dalam bijih emas yang lebih tinggi."Usaha pengembangan proyek kami lebih cepat dari jadwal dan kami selanjutnya akan melihat hasil yang positif dari hasil eksplorasi di Phoenix (Nevada), Minas Conga (Peru) dan Ahafo (Ghana)," ujar Murdy.Newmont mengharapkan penjualan emasnya secara konsolidasi bisa mencapai 8,5-8,7 juta ons, dengan biaya konsolidasi yang diaplikasikan pada penjualan sebesar US$ 225-235 per ons pada tahun 2005. Saham Newmont akhirnya pada Rabu kemarin ditutup melemah ke level US$ 40,25. Saham Newmont pernah mencapai level tertinggi pada US$ 49,98 pada November tahun lalu. Newmont pada tahun lalu sempat menghadapi kendala produksinya di Indonesia dengan munculnya gugatan dari warga Buyat bahwa perusahaan ini telah mencemari Teluk Buyat.
(qom/)











































