Follow detikFinance
Rabu 17 May 2017, 11:31 WIB

10 Saham Perusahaan RI Masuk Indeks Global

Danang Sugianto - detikFinance
10 Saham Perusahaan RI Masuk Indeks Global Foto: Ari Saputra
Jakarta - Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI) kembali merombak jajaran saham dalam MSCI Global Small Cap Index. Dalam perombakan kali ini ada 10 saham dari perusahaan Indonesia yang masuk.

Saham-saham RI yang masuk dalam indeks MSCI berkapitalisasi kecil di antaranya, PT Blue Bird Tbk (BIRD), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Delta Makmur Tbk (DOID), PT Harum Internasional Tbk (HRUM), PT Indofarma Tbk (INDF), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT MNC Investama Tbk (BHIT), PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL), PT Tunas Baru Lampung Tbk, dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).

Ada yang masuk, ada pula yang keluar dari jajaran MSCI Global Small Cap Index. Saham-saham RI yang terdepak di antaranya PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA), PT Bisi Internasional Tbk (BISI), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) dan PT Multipolar Tbk (MLPL).

Menurut Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee, sebenarnya tidak begitu jelas apa yang mendasari lembaga indeks global itu dalam memilih daftar emiten. Namun dia yakin salah satu alasannya karena saham-saham tersebut terbilang cukup likuid.

"Memang tidak terlalu jelas apa data yang benar-benar mereka pakai. Tapi kalau kita perhatikan nampaknya dia melihat likuiditas satu saham. Kalau saham cukup likuid dan asing sudah masuk, dia memilih saham itu," tuturnya saat dihubungi, detikFinance, Rabu (17/5/2017).

Selain itu, Hans yakin, faktor fundamental perusahaan juga menjadi pertimbangan. Kebanyakan dari kesepuluh emiten tersebut mengalami kinerja keuangan yang cukup apik di 2016.

"Nampaknya dia juga mempertimbangkan faktor fundamental dari korporasi diperhatikan dan itu pertimbangannya. Dia kelihatannya melihat kinerja emiten," imbuhnya.

Mayoritas dari emiten yang terpilih itu memang mencatatkan kinerja cemerlang. Seperti BUMI pada 2016 membukukan laba bersih US$ 100,6 juta, berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya yang mengalami kerugian hingga US$ 2 miliar.

Selain itu, dengan likuidnya dari mayoritas saham tersebut maka para kesepuluh emiten itu juga dianggap mempengaruhi kapitalisasi pasar. Menurut Hans hal itu cukup menarik bagi investor asing.

"Jadi mungkin dia mempertimbangkan fundamendal, likuiditas dan market cap. Dan dibeli orang dan diminati asing," pungkasnya. (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed