Follow detikFinance
Jumat 14 Jul 2017, 13:46 WIB

7-Eleven 'Diamputasi' untuk Selamatkan Bisnis Lain Induknya

Danang Sugianto - detikFinance
7-Eleven Diamputasi untuk Selamatkan Bisnis Lain Induknya Foto: Danang Sugianto-detikFinance
FOKUS BERITA 7-Eleven Tutup
Jakarta - PT Modern Internasional Tbk (MDRN) telah memutuskan untuk menutup seluruh gerai 7-Eleven (Sevel) per 30 Juni 2017. Secara otomatis dengan tidak beroperasinya Sevel, maka hak mengembangkan franchise oleh PT Modern Sevel Indonesia (MSI) telah berakhir.

Direktur Modern Internasional Donny Susanto menjelaskan, memang MSI yang dulunya bernama PT Modern Putra Indonesia (MPI) mendapatkan hak untuk mengembangkan Sevel selama 20 tahun ditambah 10 tahun masa perpanjangan.

"Dengan tidak beroperasi, maka secara otomatis terminate," tuturnya dalam acara Public Exposes Isidentil di Kantor Pusat Sevel, Jakarta, Jumat (14/7/2017).

MPI kala itu menandatangani LoI dengan 7-Eleven, Inc tepat pada 10 Maret 2008 di Dallas Texas, Amerika Serikat (AS). Lalu pada 2009, MPI menindak lanjuti dengan menandatangan MoU master franchise dengan 7-Eleven. Itu artinya perseroan seharusnya masih berhak mengembangkan Sevel hingga 2029 dan bisa memperpanjang hingga 10 tahun lagi.
Menurut Donny, keputusan perseroan merupakan jalan yang terbaik. Sevel dianggap membebani induk usaha sangat besar. Sebab penggelontoran modal fokusnya paling besar ke Sevel.

"Contoh kami punya jari 5 ada 1 yang sakit. Memang sedih tapi harus kita potong supaya semuanya masih bisa hidup. Kita punya Richo dan lain-lain yang harusnya bisa berkembang karena fokus kita di sevel. Mengenai rinciannya ke depan sedang kita bicarakan, yang penting lukanya harus diamputasi dulu," imbuhnya.

Donny mengakui, pada saat Sevel beridiri perseroan terlalu agresif dan bernafsu mengembangkannya. Ratusan gerai dibuka sekaligus dalam waktu hanya beberapa tahun.

"Dengan dampingan dari Sevel kami melakukan investasi cukup cepat dan agresif. Fasilitas dapur kita berstandar, dindingnya saja harus foodgrade. Tentu itu membutuhkan modal yang besar," tukasnya.

Menurut laporan keuangan konsolidasian MDRN kuartal I-2017 (tidak diaudit), perusahaan ini masih mengalami kerugian sebesar Rp 447,9 miliar. Angka tersebut berbanding terbalik dengan kondisi perseroan di kuartal I-2016 yang masih mampu membukukan laba sebesar Rp 21,3 miliar.

Adapun total liabilitas (kewajiban) MDRN di kuartal I-2017 mencapai Rp 1,38 triliun sedangkan total asetnya mencapai Rp 1,57 triliun. Jika dibagi rasio solvabilitas MDRN adalah 0,88 kali. Kewajiban itu sebagian besar dari Sevel.

"Yang paling memberatkan kami pembayaran bunga dan pokok bunga ini yang membuat modal kerja kita tergerus. Sehingga tidak bisa melanjutkan operasional. Bunga kita juga kontribusi terbesar pinjaman dari bisnis Sevel," tukasnya. (ang/ang)


FOKUS BERITA 7-Eleven Tutup
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed