Follow detikFinance
Jumat 11 Aug 2017, 11:17 WIB

Mau Jajal Saham Gorengan? Baca Dulu Tips Ini

Danang Sugianto - detikFinance
Mau Jajal Saham Gorengan? Baca Dulu Tips Ini Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Saham gorengan sebaiknya dihindari. Namun layaknya makanan yang digoreng, meski memicu kolesterol tetap saja menggiurkan.

Nah, agar bisa bermain saham gorengan dengan aman, tentu harus mengetahui dahulu ciri-cirinya. Menurut praktisi pasar modal, inspirator investasi, serta penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, caranya mudah, cukup lihat kinerja keuangan perusahaan dan bandingkan dengan harga saham saat ini.


Jika kinerjanya biasa-biasa saja atau bahkan buruk, tapi sahamnya terus menguat itu sudah pasti digoreng. Ada berbagai variabel untuk melihat nilai kewajaran sebuah saham dari laporan keuangannya, seperti dari indikator Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).

Mengetahui nilai wajar sebuah saham akan menjadi pegangan untuk lepas dari jebakan bandit penggoreng saham. Sebab sudah pasti saham yang digoreng bergerak jauh dari nilai wajar sahamnya.

Sering kali saham yang akan digoreng dibuat turun terlebih dahulu. Hal itu agar sang 'bandit' bisa menampung saham-sahamnya di level terendah. Saat saham sudah di posisi terendah, di situlah waktunya masuk membeli saham gorengan.

"Biasanya ada broker juga yang merekomendasikan sell terus. Nanti lain juga menjual mereka yang tampung," tutur Ryan kepada detikFinance, Jumat (11/8/2017).

Jadi jika ingin mengonsumsi saham gorengan tentu jangan telat untuk masuk gerbong sang 'bandit'. Jika telat, maka semakin kecil margin keuntungan yang didapat.


Selain itu exit point atau penentuan sampai level mana kita melakukan aksi jual itu juga sangat penting. Jika tidak, skenario terburuknya investor 'nyangkut' di saham tersebut dan menjadi mangsa sang bandit.

Namun menurut Ryan sangat sulit untuk mengetahui sampai level mana kenaikan saham yang sedang digoreng. Tidak ada cara yang pasti untuk menganalisanya, meskipun bisa berandai-andai dengan metode analisis teknikal.

"Susah buat ditentukan. Paling pakai hitungan technical fibonacci. Mengandai-andai pakai teori matematika dalam sebuah perdagangan yang aneh. Karena pasar itu invisible hand. Kita enggak tahu hatinya si bandit," tukasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed