Menurut Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede rendahnya penjualan ORI014 karena kecilnya tingkat kupon yang hanya sebesar 5,85%. Tingkat kupon tersebut memang paling rendah dibanding 13 seri ORI sebelumnya.
"Kalau kita lihat memang setelah penjatahan di bawah target. Kuponnya juga menurun dibanding ORI sebelumnya. Jadi itu saya pikir menjadi salah satu faktor mengapa demand-nya tidak terlalu besar. Itu menjadi faktor utama realisasinya jauh di bawah target," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Senin (23/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: ORI014 Laku Rp 8,94 Triliun |
Josua memandang, rendahnya tingkat kupon ORI014 membuat para investor ritel lebih memilih instrumen investasi lainnya seperti reksadana. Dia juga mengira masyarakat saat ini lebih memilih menempatkan uangnya di perbankan.
"Sebagian besar para investor ritel ini bisa ke reksadana, tingkat risikonya lebih rendah. Lalu sekarang trendnya sedang tabungan haji atau pendidikan anak. Jadi produk perbankan juga cukup diminati. Orang mungkin banyak nabung di bank, karena DPK-nya juga kita lihat masih di atas pertumbuhan kredit," tambahnya.
Namun Josua tak sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Sebab tingkat bunga di pasar obligasi juga cenderung menurun. Pemerintah hanya mengikuti tren bunga saat ini.
"Saya pikir ini bukan menggambarkan penerbitan ORI ini gagal. Ini memang karena faktor penurunan cost of borrowing, karena CDF turun, suku bunga turun setelah rating upgrade dari S&P, ya ini kuponnya juga musti turun, dan masih banyak instrumen yang lebih tinggi return-nya membuat ORI014 ini tidak mencapai target," tukasnya.
(mkj/mkj)











































