Follow detikFinance
Senin 12 Feb 2018, 16:11 WIB

Ingin Jual Saham ke Publik, Go-Jek Terkendala Regulasi

Danang Sugianto - detikFinance
Ingin Jual Saham ke Publik, Go-Jek Terkendala Regulasi Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Go-Jek tak menampik bahwa perusahaan tertarik untuk menjajakan saham di pasar modal. Namun perusahaan teknologi ini masih belum menentukan kapan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

President dan Co-Founder Go-Jek Andre Sulistyo mengatakan, bahwa pihaknya sangat tertarik untuk bisa melakukan IPO. Namun minat itu masih mengalami kendala dari sisi persyaratan.

"IPO ini topik yang sangat menarik karena perusahaan-perusahaan seperti kami ini masih muda dan financial track record-nya masih pendek," tuturnya dalam acara Konfrensi Pers Astra X Go-Jek di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Andre pun membandingkan dengan syarat IPO di luar negeri yang lebih fleksibel. Salah satunya tidak mengharuskan perusahaan sudah mendulang profit. Sebab perusahaan startup seperti Go-Jek masih membutuhkan waktu untuk meraup keuntungan.

"Di luar negeri lebih fleksibel apakah perusahaan harus profit atau apakah perusahaan harus memiliki kelas-kelas saham yang berbeda. Nah itu mungkin yg menjadi wacana untuk disampaikan ke regulator. Aspirasi sangat ingin sekali go public lebih cepat. Keinginan sudah ada," tuturnya.

Sementara Chief Executive Officer dan Founder Go-Jek, Nadiem Makarim menambahkan, pihaknya percaya bahwa para regulator pasar modal seperti PT BEI dan OJK bisa menjawab kendala tersebut.


"Pemain digital itu kan harus berinvestasi jangka panjang. Contohnya Twitter tadi baru saja laba. Saya yakin dengan kepemimpinan BEI pasti akan mengakomodasi pemain digital yang mau berinvestasi ke ekonomi digital," ujarnya.

Sedangkan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengaku sudah berkomunikasi dengan BEI untuk mendorong Go-Jek agar bisa IPO. Dengan listing di Indonesia, dia ingin agara para driver Go-Jek bisa memiliki saham perusahaan mitranya itu.

"Saya bicara dengan BEI, tukang ojek jadi pemegang saham. Saya ingin dorong itu. Semoga bisa bergerak cepat. Kalau mereka kan ini investornya suatu saat harus klik kan. Kalau mereka listed di luar negeri dapat apa di Indonesia? Semua sistem regulasi di Indonesia ini harus diubah. Sebelum mengubah orang lain, diri sendiri harus berubah," tegasnya.



[Gambas:Video 20detik]

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed