BEJ, BES dan BBJ Harus Miliki Segmen Pasar yang Jelas

BEJ, BES dan BBJ Harus Miliki Segmen Pasar yang Jelas

- detikFinance
Rabu, 22 Jun 2005 14:55 WIB
Jakarta - Bursa-bursa yang ada di Indonesia seperti Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES) dan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) harus memiliki segmen pasar yang jelas. Saat ini ketiga bursa itu dinilai masih tumpang tindih (overlapping) dengan memperdagangkan produk yang hampir sejenis. "Saat ini masih terjadi overlapping, makanya harus ada segmen yang jelas," kata Presdir Bhakti Securities A Wisnhu Handoyono kepada wartawan di Jakarta, Rabu (22/6/2005).Ketiga pengelola bursa tersebut, menurut Wisnhu, harus duduk bersama untuk menentukan segmentasi produk yang akan dijual, sehingga bisa terjadi win win solution. Dicontohkan Wisnhu, saat ini ketiga bursa menjual derivatif untuk produk keuangan, sedangkan BEJ dan BES sama-sama masih memperdagangkan saham. Padahal jika dilihat basis kekuatan masing-masing bursa, menurut Wisnhu, BEJ lebih unggul mengelola saham, BES produk derivatif dan surat utang, serta BBJ yang harus kembali ke khitahnya sebagai pengelola bursa komoditi. BEJ, selain memperdagangkan saham, juga mulai mengembangkan produk derivatif, seperti menawarkan Kontrak Opsi Saham (KOS). Sedangkan BES yang mulai memfokuskan pada perdagangan surat utang dan produk turunan indeks, juga masih mempertahankan perdagangan saham. Sektor ini memberikan kontribusi 30 persen untuk pendapatannya. Begitu pula dengan BBJ yang justru memperdagangkan produk derivatif keuangan seperti produk BES hingga 90 persen. Sementara produk komoditinya yang diperdagangkan hanya 10 persen. Sayangnya, kondisi seperti ini dibiarkan berlarut, karena tidak ada regulasi yang jelas mengenai siapa yang boleh memperdagangkan ini atau yang dilarang memperdagangkan produk tertentu. Alasan profit juga menjadi pertimbangan ketiga bursa tersebut memperdagangkan produk yang hampir sama. "Kalau pemerintah belum bisa memutuskan regulasinya, harusnya ketiga bursa itu menyelesaikan lewat jalur business to business, karena ketiganya kan ingin survive, jadi harus bisa menurunkan egonya," kata Wisnhu. Spesifikasi bursa juga dinilai akan lebih menguntungkan investor. Pasalnya, investor bisa lebih mudah mendatangi bursa yang ingin dituju sesuai kepentingan investasinya. "Kalau investor mau investasi surat utang bisa langsung BES, komoditi ke BBJ dan saham ke BEJ, jadi mereka juga tidak bingung," ujarnya. Di negara lainnya, kata Wisnhu, segmentasi bursa sudah lebih maju, seperti Singapura dan AS yang memiliki bursa komoditi dan keuangan yang berbeda. Bagaimana pun, lanjut Wisnhu, potensi pasar keuangan dan komoditas di Indonesia cukup besar. Sehingga kalau tidak digarap dengan benar, investor enggan untuk berinvestasi di bursa dan tetap lebih memilih bank. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads