Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 13 Mar 2018 17:50 WIB

Harga Batu Bara Dipatok US$ 70/Ton, Adaro Kencangkan Ikat Pinggang

Danang Sugianto - detikFinance
Batu Bara (Foto: Mindra Purnomo) Batu Bara (Foto: Mindra Purnomo)
Jakarta - Pemerintah telah menetapkan harga batu bara domestik (Domestic Market Obligation/DMO) untuk pembangkit listrik sebesar US$ 70/ton. Keputusan ini menjadi kabar buruk bagi perusahaan batu bara.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) misalnya, perusahaan ini memperkirakan pendapatan akan terganggu atas kebijakan tersebut. Meskipun perseroan belum menghitung berapa persen koreksi target pendapatan tahun ini.

"Belum tahu. Kenapa saya sebut revenue berkurang karena harga untuk domestik pasti berubah," kata Direktur Utama Adaro Energy Garibaldi Thohir di Gedung Kanwil Ditjen Pajak WP Besar Sudirman, Jakarta, Selasa (13/3/2018).


Dari total produksi batu bara Adaro memang sebagian besar di ekspor. Hanya sekitar 23-25% untuk domestik sisanya dieskpor.

"Kita selalu dari dulu memenuhi DMO bahkan lebih. Karena sebetulnya kalau kebutuhan real-nya itu khusus untuk PLN sekitar 20%. Jadi 25% itu lebih dari cukup, karena mungkin ada sektor lain di luar PLN yang memakai batu bara. Seperti industri semen dan industri lain," imbuhnya.

Untuk produksi batu bara Adaro tidak merubah volumenya. Perusahaan tahun ini masih mempertahankan volume produsi batu bara di angka 54-56 juta metrik ton per tahunnya.

Meski begitu, pria yang kerap disapa Boy itu yakin laba bersih tidak akan terganggu. Sebab perusahaan akan melakukan berbagai upaya untuk menahan imbas dari penurunan pendapatan.


Upaya yang dilakukan dengan melakukan beberapa efisiensi seperti upaya hedging bahan bakar. Sebab bahan bakar menjadi komponen biaya terbesar dalam produksi batu bara.

"Terus efiensi lain, seperti perjalanan ke site (tambang). Ya mungkin memang selama ini saya sendiri kalau ke site biasanya naik mobil. Itu efisiensi-efisiensi sekecil itu yang kita lakukan," terangnya.

Selain itu pihaknya juga akan mengoptimalkan penjualan batu bara ke negara yang berani membayar di harga premium seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong dan Malaysia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed